RADAR JOGJA – Meski di beberapa kawasan sudah turun hujan, Pemkab Gunungkidul akhirnya menetapkan status darurat kekeringan. Itu karena hujan yang belum turun merata.

“Penetapan status darurat mengacu pada kondisi terkini di sejumlah kecamatan yang masih kekurangan air bersih,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki saat dihubungi Selasa (10/12).
Dia menjelaskan, kecamatan yang masih meminta bantuan air bersih di antaranya, Panggang, Paliyan, Purwosari, Girisubo dan Kecamatan Rongkop. Rencananya penyaluran bantuan akan diberikan mulai besok (hari ini).
Menurut dia, penetapan status darurat tidak lepas dari kosongnya anggaran penanggulanan bencana kekeringan. Sejak beberapa bulan lalu, dana droping baik di BPBD maupun kecamatan telah terkuras habis. “Hujan sudah turun tapi belum merata sehingga bak-bak penampungan milik warga belum terisi air,” ungkapnya.
Disinggung mengenai waktu penetapan status darurat, Edy mengakui bahwa masa diperlakukan secara situasional. Meski demikian, target awal penetapan akan dilangsungkan hingga 15 Desember mendatang. “Dalam lima hari ke depan, bantuan akan kami salurkan. Jika, kondisi hujan belum merata, maka status darurat bisa diperpanjang,” tuturnya.
Dikatakan, untuk penyaluran bantuan selama lima hari diperkirakan kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp 40 juta. Berdasarkan penetapan status darurat kekeringan, maka kebutuhan anggaran diambilkan dari belanja tak terduga milik pemkab. “Tapi besaran anggaran masih sebatas estimasi dan mengacu pada armada penganggut air yang dimiliki BPBD,” ucapnya.
Sementara itu, Camat Girisubo, Agus Riyanto mengatakan, hujan belum berdampak luas terhadap kekeringan. Hingga sekarang, wilayahnya baru diguyur hujan sebanyak satu kali. Itu pun tidak berlangsung lama sehingga masyarakat belum bisa memanfaatkan air dari hujan. “Saat proses droping air, kami mengimbau kepada masyarakat agar mengoptimalkan sumber-sumber air yang ada,” kata Agus Riyanto. (gun)