RADAR JOGJA – Modus penipuan berkedok perekrutan ojek online terjadi di DIJ. Korbannya mencapai 41 orang,  38 di antaranya sudah menyerahkan uang sebesar Rp 1,8 juta sebagai syarat pendaftaran. Sisanya belum sempat mentransfer uang  ke para pelaku yang berjumlah tiga orang.

Ketiga pelaku yakni Tasrofik, 40, asal Kebon Jeruk, Jakarta Barat; M Arapah Aziz, 35, asal Cakung, Jakarta Timur, dan Anto, 22, asal Imogiri, Bantul. Ketiganya telah ditangkap dan ditahan di Mapolda DIJ untuk menjalani pemeriksaan intensif.

Direskrimsus Polda DIJ Kombes Pol Y Tony Surya Putra menjelaskan, modus yang digunakan oleh para pelaku yakni mengaku menjadi karyawan salah satu perusahaan ojek online (ojol), sehingga bisa mempercepat proses pendaftaran. Pelaku lantas membuat SMS palsu  agar calon driver bisa terdaftar sebagai mitra.

Tony mengatakan, ketiga pelaku punya peran masing-masing. Tasrofik berperan sebagai karyawan ojol dari Jakarta. Dia juga yang membuat SMS palsu yang seolah-olah dari pihak aplikator. Kemudian M Arapah berperan  mengatur jalannya proses perekrutan. Sedangkan Anto  mencari korban dengan cara membuka lowongan kerja sebagai driver dengan jalur VIP yang diposting di Facebook.

Pelaku, kata dia, selanjutnya meminta korban untuk mentransfer uang  Rp 1,8 juta. Itu untuk mempercepat proses, karena kalau memakai jalur biasa, proses pendaftaran bisa memakan waktu enam hingga sembilan bulan. “Tapi setelah ditransfer, nomor pelaku tidak bisa dihubungi,” kata Tony saat ungkap kasus di Mapolda DIJ, Selasa (10/12).

Para korban, lanjut perwira menengah ini, menggunakan aplikasi palsu yang dibuat oleh para pelaku. Salah seorang korban, Galang Kharisma, bahkan sempat datang ke kantor salah satu aplikator ojol dan menanyakan soal aplikasi yang tidak bisa dioperasikan. Galang lantas mendapat penjelasan bahwa aplikasi yang digunakan ternyata palsu. Dia juga belum terdaftar resmi di perusahaan itu.

Pihak aplikator ojol lantas membantu para korban dengan melaporkan ke Polda DIJ akhir September 2019. “Ini hampir sama dengan modus penipuan online yang lain. Apabila korban sudah transfer uang, nomor pelaku tak lagi bisa dihubungi,”  kata Tony.

Polisi mengejar pelaku hingga ke Bogor dan Jakarta. Ketiganya baru bisa dibekuk  awal Desember 2019. Kepada polisi, para pelaku mengaku telah menipu sebanyak 41 orang. Namun hanya tiga orang saja yang mentransfer. Uang itu telah dibagi, di antaranya Tasrofik mendapat Rp 5 juta, M Arapah mendapat Rp17 juta, dan Anto memperoleh Rp17 juta.

Polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya tiga keping kartu ATM dan satu buku tabungan, sebuah jaket hijau dari salah satu aplikator yang diduga disablon sendiri dan empat buah ponsel.

Ketiganya akan dijerat dengan Pasal 5 Ayat 1 jo Pasal 35 UU No 11/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman 12 tahun penjara. Juga Pasal 378 jo Pasal 55 KUHP, dengan ancaman kurungan maksimal empat tahun.

Sementara itu dari keterangan salah seorang pelaku, praktik penipuan itu telah berlangsung sejak satu tahun lalu. Modus penipuan yang digunakan juga sama. “Kalau nomor ponsel korban, kami nyarinya di Facebook,” ujar salah seorang pelaku.

Sementara itu Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto menjelaskan, Polda DIJ mengimbau kepada masyarakat agar waspada terhadap pelaku penipuan online. Baik yang modusnya jual beli online maupun modus lain. “Kalau ada tawaran atau iming-iming keanggotaan ojol, sebaiknya langsung cek ke kantor cabang. Jangan mudah percaya, apalagi dilakukan melalui SMS,” pesannya. (har/laz)