Karirnya sebagai pemain di PSIM Jogja memang singkat. Namun, Laskar Mataram – julukan PSIM Jogja – tetap tersimpan di hati Nur Rohman Ali. Kini, dia menjalani hari-harinya sebagai karyawan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

HERY KURNIAWAN, Bantul, Radar Jogja

Nama Nur Rohman Alwi memang terdengar kurang akrab di telinga para penggemar PSIM Jogja. Apalagi bagi para penggemar era saat ini. Wajar saja, pria yang kini sudah berusia 49 tahun itu memperkuat PSIM pada tahun 1993.

Selain itu karir Maman, sebutan akrab Nur Rohman Ali juga terbilang singkat.
Di PSIM, Maman hanya bermain dua musim saja, yakni Liga Perserikatan 1993 dan 1994.

Pada 1994 itulah Maman mengalami cedera parah pada bagian lututnya. Cedera itu membuatnya sempat beberapa kali melakukan operasi. Namun, karir Maman sebagai pesepakbola tidak bisa diselamatkan. Pria kelahiran Klaten itu harus pensiun di usia 26 tahun.

Kepada Jawa Pos Radar Jogja, Maman menceritakan bagaimana dia bisa mengalami cedera mengerikan seperti itu. Menurutnya, kejadian itu justru terjadi saat dia tidak memperkuat PSIM.

“Dulu malah cedera pas main di tarkam (antar kampung), tulang lutut saya ini sampai masuk ke bagian paha,” kenang Maman sembari memperlihatkan salah satu bagian di kakinya, Rabu (27/11).

Cedera itu diakui Maman sempat membuatnya menyesal. Apalagi cedera parah itu terjadi saat ia sedang tidak memperkuat PSIM. Ya menyesal. Tapi menurutnya mau bagaimana lagi.

‚ÄúPemain zaman dulu tidak bisa hidup jika mengandalkan gaji dari PSIM saja,” ujar Maman.

Maman kemudian menceritakan bagaimana dia dan rekan-rekannya yang lain mendapatkan gaji di PSIM kala itu. Menurutnya ketika itu tidak ada sistem kontrak.

Yang ada pemain hanya mendapatkan bayaran setelah mereka bertanding. Besaran gaji antara pemain inti dan pemain cadangan pun berbeda.

“Dulu saya ingat gaji pemain inti itu Rp 70 ribu rupiah sekali main,” ujar mantan bek sayap tersebut.

Lebih lanjut, Maman juga membagikan beberapa pengalaman menarik yang sempat dia dapatkan selama membela PSIM Jogja. Mulai dari kerusuhan suporter di Semarang, hingga teror yang dilakukan suporter saat PSIM bertandang di Makassar.

Selain itu bermain bersama kiper legendaris, Siswadi Gancis juga menjadi kenangan yang berkesan bagi Maman.

Selepas pensiun, Maman langsung diterima menjadi karyawan di UMY. Pekerjaan tersebut terus dia lakoni hingga sekarang.

Namun, kecintaan Maman terhadap dunia sepak bola tidak bisa dibohongi. Sembari bekerja, dia juga masih mengurusi pembinaan pemain muda di SSB HW (Hizbul Wathan).

Bahkan, Maman mengakui beberapa pemain yang kini beredar di Liga 1 Indonesia sempat merasakan didikannya di SSB HW.

“Rangga Muslim yang sekarang di PSS Sleman itu sempat bareng saya di HW,” jelasnya.

Kendati memiliki rasa cinta yang tinggi terhadap dunia sepak bola, Maman menyatakan tidak memiliki keinginan untuk mengambil lisensi kepelatihan yang lebih tinggi dan menukangi klub secara profesional.

Menurutnya, untuk menjadi pelatih pro perlu modal yang besar terutama soal waktu. Maman saat ini hanya fokus melakukan pembinaan dan pembibitan di SSB HW saja. (din)