RADAR JOGJA – Perang terhadap buku bajakan semakin terbuka. Tercatat 13 penerbit yang tergabung dalam Konsorsium Penerbit Jogjakarta melakukan pemetaan. Hasilnya, hampir 90 persen buku yang beredar di pasaran merupakan karya para pembajak.

Juru bicara Konsorsium Penerbit Jogjakarta Hinu OS menuturkan, ada kerugian besar atas tindakan ilegal tersebut. Nominalnya mencapai kisaran Rp 13 miliar untuk total kerugian 13 penerbit itu. Angka ini tentu berdampak besar bagi penerbit maupun penulis buku.

“Contoh kawasan Shopping ini, setidaknya 90 persen buku yang dijual produk bajakan. Sangat merugikan karena ini bicara karya. Apalagi konten buku bajakan itu sama persis dengan buku aslinya,”  ungkapnya saat ditemui di sela-sela sosialisasi buku bajakan di Shopping Center, Rabu (27/11).

Tak terhenti sampai di sini, konsorsium turut menelaah munculnya buku bajakan. Salah satu penyebab utama adalah terputusnya komunikasi antara penjual buku dan penerbit buku. Imbasnya suplai buku tidak lancar dan terbatas.

Hinu menyadari permintaan buku sangatlah tinggi. Dalam berbagai kasus permintaan pasar tidak selamanya bisa terpenuhi. Inilah yang menyebabkan munculnya beragam buku bajakan. Tentunya dengan menyesuaikan permintaan pasar.

“Celah ini dimanfaatkan untuk membajak buku-buku terbitan resmi. Penjual terkadang ngikut saja karena untuk memenuhi kebutuhan pasar. Setidaknya setelah ini ada komunikasi intens agar tidak terulang lagi,”  katanya.

Perang ini awalnya telah masuk ranah pidana. Konsorsium Penerbit Jogjakarta telah melaporkan tindakan pembajakan ke Ditreskrimsus Polda DIJ. Pasca laporan berlanjut dengan pendekatan kepada penjual-penjual buku.

“Respons dari teman-teman di Shopping sangat bagus. Sudah meminta maaf, buku bajakan juga diserahkan dengan bertahap. Kalau total, mungkin ada ribuan buku,” ujarnya.

Hinu berharap gerakan ini bisa menasional. Apalagi permasalah serupa tak hanya terjadi di Jogjakarta. Pembajakan buku seakan bukan tindakan yang asing lagi. Bahkan sudah menjadi sindikat yang berlangsung puluhan tahun.

Para pembajak, lanjutnya, menyasar buku-buku top seller dan booming. Dijual dengan selisih harga tapi dengan kualitas kertas yang berbeda. Permasalahannya adalah seluruh konten buku bajakan mirip dengan buku aslinya.

“Sasaran kami selanjutnya adalah marketplace, walau memang tidak mudah identifikasi. Juga menyasar pembajaknya tentu dengan koordinasi bersama kepolisian,” harapnya.

Sesepuh Shopping Center Untung mengakui ada dilematis tersendiri. Dia membenarkan keterbatasan komunikasi dengan penerbit. Alhasil untuk memenuhi kebutuhan pasar, para penjual memilih buku bajakan. Alasannya, lebih mudah distribusinya dibanding buku asli.

Walau begitu muncul kegelisahan di benak para pedagang. Itulah mengapa dukungan mengalir saat muncul perang terhadap buku bajakan. Namun langkah ini perlu diimbangi dengan distribusi buku asli dari distributor resmi.

“Kami memang punya semangat bersama dan sepakat untuk tidak lagi menjual buku bajakan. Langkah awal dengan menyerahkan ratusan buku bajakan koleksi para pedagang kepada konsorsium,” jelasnya.

Untung turut curhat atas permasalahan selama ini. Para pedagang tidak mengetahui alur komunikasi dengan penerbit resmi. Walau ada tawaran, tapi belum merata. Alhasil belum semua pedagang berjualan buku resmi dari penerbit.

Pria ini menjamin tidak semua penjual bertindak nakal. Dia mengklaim hanya 10 persen dari sekitar 130 pedagang yang berjualan buku bajakan. Edukasi terus berlangsung dengan melibatkan Konsorsium Penerbit Jogjakarta.

Pemilik toko Wacana Baru Barzan, 30, mengamini curhatan Untung. Sebagai pedagang, prinsipnya hanya mengikuti keinginan pasar. Termasuk munculnya buku bajakan di wilayah Shopping Center. Penyebab utama terputusnya jalur distribusi resmi.

“Benar, memang ada tawaran buku resmi tapi belum ke semua pedagang. Ditambah lagi karakter pembeli, ada yang pingin asli, ada juga yang tidak peduli. Saya mendukung perang buku bajakan, sudah serahkan sekitar 20 buku,” katanya. (dwi/laz)