AKHIR-akhir ini bencana kekeringan melanda di banyak tempat. Bencana kekeringan ini bahkan terjadi di hampir setiap tahun terutama di daerah pegunungan. Tentunya hal ini menjadi kegelisahan bersama dan kita berdoa semoga pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dapat bahu membahu untuk menyelesaiakan masalah ini.

Perhatian masyarakat Indonesia mengenai air harus semakin ditingkatkan. Hal ini tidak hanya dikarenakan air merupakan salah satu sumber kehidupan, akan tetapi, pada kenyataanya Indonesia adalah negara yang memiliki 6 persen cadangan air dunia, menempati peringkat kelima setelah Brasil, Rusia, Tiongkok, dan Kanada.

Dalam HPT Jilid 3 yang membahas mengenai Fikih Air dijelaskan dengan gamblang, bahwa permasalahan air di Indonesia sudah semakin gawat. Kekeringan yang terjadi pada muslim kemarau ini hanyalah satu diantara banyak permasalahan yang berkaitan dengan air, diantaranya adalah:

Pertama, adanya kelangkaan air baku. Sebagai misal, Jakarta sebagai ibukota, ternyata membutuhkan air 27.00 liter/ detik, sedangkan supply yang ada hanyalah 18.000 liter/ detik. Hal ini belum lagi daerah-daerah pegunungan yang sulit dijangkau air, terutama di muslim kemarau yang kemudian menimbulkan bencana kekeringan. Padahal disisi lain, air di musim hujan, justru membuat bencana banjir dan juga terbuang tanpa ada usaha penyimpanan air untuk musim kemarau berikutnya.

Kedua, konsumsi air tidak layak. Tahun 2010, jumlah rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses berkelanjutan pada sumber air minum yang layak hanya 41,71% dan yang memiliki sanitasi yang layak hanya 51, 19%. Lebih lanjut lagi, studi dari UNICEF menyatakan bahwa perkampungan kumuh yang tidak memiliki sumber air dan sanitasi yang layak, memiliki prosentasi kematian anak lebih tinggi lima kali lipat dari daerah perkotaan.

Ketiga, data dari Kementerian Lingkunan Hidup tahun 2013 mencatat bahwa dari 133 sungai di Indonesia, 72,25% telah tercemar berat, 22,52% tercemar sedang, 1% tercemar ringan, dan hanya 0,49% yang baik. Dari 133 sungai, 94 sungai diantaranya ada di pulau Jawa.

Keempat, potensi konflik karena perebutan air. dimana msyarakat di hulu sungai meminta kompensasi atas penggunaan sungai kepada penduduk hilir. Ketika tidak dibayarkan, supply air dikurangi.

Kelima, pada 2000-2005 menurut Organisasi Pangan dan Petannian Dunia (FAO), kerusakan hutan di Indoensia ada sekitar 1,9 juta hektar. Hal ini membuat air hujan tidak tertangkap oleh hutan dan langsung menuju laut.

Dari sini, kita dapat melihat bahwa permasalahan mengenai terlihat begitu urgen untuk segera diselesaikan. Meskipun begitu, pada kenyatanya, bencana kekeringan yang terjadi mempunyai bentuk ironi tersenidiri.

Di sisi lain, kita mendapati bencana kekeringan di musim kemarau, akan tetapi ketika musim hujan datang, kita justru kebanjiran. Tidak hanya itu, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita yang memboroskan air bahkan dalah hal ibadah.

Ketika berwudhu, banyak diantara kita yang secara tidak sengaja membuang air, entah karena kran air yang dibuka terlalu besar atau karena berwudhu sambil berbicara dengan teman. Jika kita hitung, misalnya, air yang secara tidak sengaja terbuang adalah 1 liter/ orang, dan satu masjid memiliki 20 jamaah, maka dalam satu kali shalat, setiap masjid membuang air secara tidak sengaja sebanyak 20 liter. Jika dikali lima kali waktu shalat, maka 100 liter, dan jika satu kelurahan ada 20 masjid, maka jumlahnya menjadi 2000 liter/ kelurahan/ hari. Itu baru dengan asumsi, satu masjid memiliki 20 jamaah. Sungguh ironi bukan?

Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa umat muslim itu bagaikan satu tubuh, jika satu bagian ada yang merasakan rasa sakit, maka bagian yang lain juga akan merasakan sakit tersebut. Maka sungguh tidak layak ketika banyak masyarakat yang mengalami kekeringan, kemudian kita justru berwudhu dengan air yang boros yang kadang alasanya adalah egoisme “kalau kran tidak besar, wudhu terasa kurang puas”.

Gerakan Ramah Air

Lalu bagaimana solusinya? Dalam Buku Fikih Air Muhammadiyah, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar kita semua bisa menjadi bagian dari solusi atas permasalahan air yang terjadi. Baik dari level individu (keluarga), masyarakat, pelaku bisnis, maupun pemerintah.

Di level individu dan keluarga, kita bisa memulai dengan a) Membiasakan membetulkan kran dan pipa yang bocor, b) Membiasakan mematikan kran ketika sudah penuh, hindari menggunakan bath-up, dan gunakan air sehemat mungkin, c) Tidak menutup seluruh halaman rumah dengan semen/ aspal dan menyisakan bagian halaman rumah untuk resapan air hujan sehingga bisa menambah cadangan air dibawah tanah.

Di level masyarakat, dapat dilakukan dengan a) Pengelolaan sumberdaya air berbasis masyarakat, b) Membat system pembuangan limbah yang baik sehingga tidak mencemari air, c) Melakukan upaya penampungan air hujan (rainwater harvesting), c) Penggunaan mulsa (penutup) organik pada tanah pertanian/ perkebunan untuk menghemat air dan mengurangi evaporasi, c) Masjid atau lembaga pendidikan menggunakan kran yang hemat air, d) Gerakan sedekah air bagi masyarakat lain yang mengalami kekeringan.

Di level pemerintah, bisa dilakukan dengan a) Mengoptimalkan proses pengelolaan air, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, pengendalian daya rusak air, dll. b) Mensinergikan potensi masyarakat dalam hal pengelolaan air, c) Melakukan penegakan hukum terhadap mereka yang melakukan kerusakan lingkungan, d) Melakukan pengaturan sumberdaya air secara bijaksana. termasuk di dalamnya mencegah beberapa pihak memonopoli air yang merupakan hak hidup orang banyak. Wallahu a’lam bishshawab. (ila)

*Penulis merupakan lulusan Magister Hukum dan Syariah UIN