Johan Arga Pramudya pensiun dari sepak bola di usia 27 tahun. Namun, kini karirnya justru terus berkembang. Selain sebagai pelatih, Johan juga memiliki bisnis yang sudah menyebar ke berbagai wilayah di Tanah Air.

HERY KURNIAWAN, Jogja, Radar Jogja

Johan Arga salah satu pesepakbola berbakat yang pernah dilahirkan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Sosok yang kala masih aktif bermain berposisi sebagai winger ini juga sempat lama memperkuat PSIM Jogja. PSS Sleman pun pernah dia perkuat meski tak lama.

Namun, pada 2017 Johan Arga harus pensiun sebagai pemain sepak bola. Berbagai macam alasan menaungi pensiunnya. salah satunya adalah cedera.

Kendati demikian, Johan tak bisa jauh-jauh dari dunia sepak bola. Setelah pensiun, sosok yang sempat merasakan bermain di Liga Timor Leste tersebut langsung mengambil lisensi kepelatihan.

Ia juga sudah menukangi beberapa tim seperti Askab Sleman, PSS U-15, SSB HW, dan kemudian tim sepak bola putri Kota Jogja.

Lalu, sejak pertengahan Oktober lalu, Johan dipinang untuk menukangi PSIS Semarang di ajang Liga 1 Putri. Kala itu Johan masuk ketika Liga 1 Putri memasuki seri kedua.

Selain itu Johan juga masuk ketika kondisi PSIS putri sedang di posisi yang kurang bagus.

“Ya saat itu saya dihubingi PSIS, targetnya agar PSIS tidak jadi lumbung gol lagi,” kata Johan kepada Radar Jogja, Rabu (20/11).

Masuknya Johan perlahan bisa memperbaiki permainan PSIS Semarang Putri. Kekalahan dengan skor besar sudah jarang dialami oleh PSIS Putri. Bahkan, mereka bisa mendulang delapan poin tambahan hingga Liga 1 putri yang saat ini sudah memasuki seri keempat.

Menukangi tim sepak bola putri memberikan tantangan tersendiri bagi Johan. Menurutnya, harus lebih sabar dan memahami para pesepakbola perempuan. “Saya harus paham soal para pemain yang datang bulan, atau mood mereka yang kadang suka berubah,” jelas Johan.

Hal itu membuat Johan menyatakan pelatih yang memiliki kemampuan taktikal yang bagus belum tentu bisa menukangi tim sepak bola putri. Menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana memahami karakter pemain putri. “Tapi saya juga masih harus banyak belajar juga,” lanjutnya.

Johan mengaku sangat menikmati karirnya sebagai pelatih tim putri. Namun, dia juga tak mengelak bahwa di masa depan dia memiliki keinginan untuk menukangi tim putra di Liga 1.

Namun, Johan tak mau terburu-buru. Sosok yang kini berusia 29 tahun itu menyatakan target terdekatnya bisa menukangi tim di Liga 2 terlebih dahulu. “Tapi pelan-pelan, saya mau ambil lisensi B dulu, paling Januari tahun depan,” ujarnya.

Selain terus meniti karir sebagai pelatih, Johan rupanya juga memiliki bisnis di bidang kuliner. Sejak 2018 yang lalu, Johan memiliki bisnis yang diberi label Makaroni Huh Hah. Bahkan, bisnis yang dimiliki Johan itu terus berkembang pesat.

Johan saat ini sudah memiliki 27 outlet di berbagai daerah di Jawa hingga Kalimantan. Kendati terbilang sukses menjalankan bisnis, Johan tak bisa membohongi apa yang benar-benar dia cintai. Yakni sepak bola. “Hasilnya lebih banyak yang dari jualan makaroni. Tapi soal passion tidak bisa dibohongi,” tandasnya. (riz)