RADAR JOGJA – Sebanyak 3.170 pesilat usia muda dari berbagai perguruan dan sekolah di Indonesia berpartisipasi dalam Yogyakarta Championship 6, yang digelar di GOR Amongraga, Selasa (22/10). Peserta yang hadir pun banyak berasal dari Bali, Kalimantan, dan Sumatera. Ketua Panitia Yogyakarta Championship 6  Romy Ardiansyah mengatakan, turnanen kali ini lebih variatif. Karena selain nomor tanding atau fight juga mempertandingkan nomor jurus atau seni.

“Turnamen ini memperebutkan Piala Kemenpora. Terdapat 8 gelanggang, dengan 82 wasit dan 409 kontingen yang akan bertanding dipertandingkan selama dua hari, pada 22-23 Oktober,” terangnya.

Dengan digelarnya Yogyakarta Championship 6, menuruti Romy juga memfasilitasi para pelatih, supaya dapat mengevaluasi kemajuan dan peningkatan kemampuan para atlet pencak silatnya yang sudah digembleng selama latihan.

“Kami ingin meningkatkan motivasi atlet-atlet muda, agar berani dan percaya diri terhadap kemampuan yang dimilikinya,” ungkapnya.

Romy menambahkan, pencak silat merupakan warisan kepribadian budaya bangsa yang mengandung banyak unsur pembelajaran untuk mencetak generasi penerus bangsa, yang sehat jasmani dan rohani. Di dalam pencak silat, seorang anak akan dilatih untuk adu tanding, atau dikenal dengan istilah sabung, jurus, senam masal, dan daya tahan fisik. Tidak hanya itu, anak juga dibekali dengan ilmu kepemimpinan, maupun spiritual.

“Pencak silat menjadi salah satu sarana yang bisa digunakan untuk melatih kepercayaan diri, sekaligus kecerdasan anak secara menyeluruh. Jadi, bukan hanya fisik, tapi juga mental, bahkan spiritual,” tandasnya.

Sementara itu Asisten Deputi Pengembangan Olahraga Tradisional Kemenpora Aria Subiyono yang membuka acara berharap, acara ini bisa meningkatkan kemampuan peserta. Bibit-bibit baru dalam silat diharapkan dapat mengharumkan nama bangsa di olimpiade 2020.

“Terus diusahakan untuk menjadikan pencak silat sebagai salah satu cabang olahraga di olimpiade itu,” ujarnya. (sky/tif)