RADAR JOGJA – Kasus pembunuhan pelajar SMK Muhammadiyah 3 Jogja Egy Hermawan memasuki babak baru. Enam berkas pelaku pembunuhan telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Jogja. Ke-6 berkas itu milik tersangka WD, 16; PSP, 17;  LK, 17; SPM,  16; RD, 16, dan AP, 16.

Waka Satreskrim Polresta Jogja Iptu Basungkowo menuturkan, pelimpahan berlangsung Senin (7/10). Seluruhnya telah dinyatakan lengkap. Alhasil kasus bisa masuk ke tahap dua oleh kejaksaan. Sementara untuk berkas perkara milik NMA, 18, masih dalam proses.

“Untuk enam anak berhadapan dengan hukum (ABH), berkasnya sudah kami limpahkan ke Kejari Jogja. Tapi untuk tersangka dewasa NMA, 18, belum dianggap lengkap, sehingga berkasnya belum dilimpahkan,” jelasnya, Selasa (8/10).

Basungkowo menuturkan, ada beberapa penyebab. Paling utama adalah pembenahan keterangan saksi. Menurut jaksa ada beberapa keterangan saksi yang berbeda. Oleh karena itu jaksa mengembalikan untuk diperbaiki. “Mungkin ada beberapa keterangan saksi yang berbeda, sehingga harus dibenahi dulu,” katanya.

Terkait penanganan tersangka dia memastikan tidak ada kesalahan prosedur. Keenam tersangka mendapatkan pendekatan sistem peradilan anak. Termasuk dalam penahanan dalam rangka pengembangan kasus hukum.

Sesuai aturan yang berlaku, maksimal penahanan ABH hanya 15 hari sejak penangkapan. Dalam kurun waktu itu penyidik berhak mencari dan mengumpulkan keterangan para tersangka. Selanjutnya disinkronkan dengan keterangan para saksi dan bukti kejadian.

“Kalau NMA kami bisa perpanjang sampai 60 hari. Walau ABH bukan berarti penegakan hukumnya kendor. Hanya sistem hukumnya yang menyesuaikan. Hukum tetap berlaku tegas apabila terbukti bersalah,” tegasnya.

Kini jajarannya tengah mendalami kemungkinan adanya tersangka lain. Ini sesuai keterangan dari ke-7 tersangka yang lebih dulu tertangkap. Dia mengklaim jajarannya telah mengantongi sejumlah data. Termasuk terduga keterlibatan tersangka lain.

“Masih berjalan, tetapi ada baiknya jika menyerahkan diri. Seperti yang dilakukan tiga tersangka sebelumnya. Mereka kooperatif karena menyerahkan diri,” ujarnya.

Pasca pelimpahan berkas perkara, otomatis kasusnya menjadi kewenangan Kejari Kota Jogja. Langkah selanjutnya adalah menentukan jadwal persidangan. Di satu sisi tim Kejari juga tengah menyiapkan materi penuntutan.

Kasi Pidana Umum Kejari Kota Jogja Joko Wuryanto menjamin sistem peradilan anak berlaku mutlak. Walau berstatus tersangka, ke-6 pelaku tetap diperlakukan khusus. Hal ini sesuai  Undang-Undang Perlindungan Anak.

“Iya karena statusnya ABH, sehingga penerapannya sistem peradilan anak. Kecuali untuk tersangka NMA karena usianya sudah 18 tahun. Jika berkas sudah dilimpahkan, maka peradilannya tetap umum sesuai usianya,” jelasnya. (dwi/laz)