RADAR JOGJA – Perkembangan komik di Jogjakarta berlangsung pasang surut. Ada satu masa keemasan, tak jarang pula meredup. Salah satu penyebab adalah minimnya ruang unjuk kreasi. Selain itu dukungan untuk tampil ke ranah publik.

Kurator Terra Bajraghosa mengakui, Jogjakarta memiliki potensi besar. Terbukti dengan banyak komikus dengan beragam aliran. Bahkan seiring waktu berjalan, gaya komik semakin berwarna. Baik itu terinspirasi gaya lokal maupun komik luar negeri.

“Sisi kreatif juga terus berkembang. Dulu identiknya kertas lalu menjadi buku. Sekarang semakin bebas dan kreatif. Hadir dalam media digital online hingga materi luar ruang,” jelas Terra  kemarin (8/10).

Cerita yang berkembang tak hanya kisah kolosal. Komik-komik mampu hadir dengan semangat yang lebih segar. Cerita yang diusung memiliki kedekatan dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang cerita-cerita itu mengusung sebuah kritik sosial.

Terra menilai sisi ini membuka pandangan para komikus. Bahwa tidak selamanya komik harus hadir dalam nuansa lucu. Terbukti dengan banyaknya komik strip empat panel. Walau terbatas, kaya akan pesan dan makna.

“Komikus mulai bermain dengan narasinya. Mencoba menghadirkan opini dan catatan kritis lewat simbol-simbol dan gambar untuk tokoh tertentu. Bisa dari pengalaman pribadi hingga peristiwa nyata,” ujarnya.

Cara-cara seperti terbukti ampuh dan efisien. Walau hadir dalam konsep kritik, namun dapat diterima pembacanya. Terutama penikmat usia muda. Bahkan cara ini dipandang efektif dalam menyampaikan sebuah pesan. Tentunya dengan kemasan seni ala komik.

“Menjadi pengalaman baru bagi pembacanya. Tak harus terbuka, kadang dalam wujud satir. Tapi semangat komiknya masih sangat kuat,”  katanya.

Terkait kemajuan teknologi, dia mendorong komikus lebih kreatif. Dari sisi distribusi karya jauh lebih beruntung. Berbanding terbalik dengan komikus pada zaman dahulu. Untuk memperkenalkan karya harus berjibaku mendatangi satu per satu publisher.

Di satu sisi kemudahan teknologi membuat persaingan semakin terbuka. Ini karena tidak sedikit yang bergerak secara mandiri. Mulai dari konsep, proses cetak hingga pemasaran. Cakupan pasar lebih luas hingga luar negeri.

“Komik sekarang memiliki pasarnya sendiri-sendiri. Tinggal menguatkan karakter diri dalam berkarya, sehingga ada ciri khas yang melekat. Padukan antara kata-kata, simbol, dan gambar,” pesannya.

Pameran komik bertajuk Yogyakarta Komik Weeks di Musuem Sonobudoyo ini merupakan inisiasi Dinas Kebudayaan DIJ. Pameran melibatkan 60 peserta. Terbagi menjadi 30 peserta workshop komik tingkat pelajar SMA. Sementara sisanya  para komikus yang telah melanglang buana.

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni  Disbud DIJ Yuliana Eni Lestari Rahayu memastikan komik masuk dalam konsentrasi jajarannya. Walau tergolong seni baru, memiliki potensi besar.

Disbud DIJ, lanjutnya, turut mengasah kemampuan. Dalam workshop sendiri melibatkan komikus dan tenaga pengajar. Materinya berupa pengenalan teknik dasar dan lanjutan. Tujuannya untuk mendorong sisi kreatif dan keberanian unjuk karya.

“Perkembangan komik sangat bagus, tapi untuk ruangnya memang kurang. Memang perlu ada wadah berupa pameran atau workshop. Adanya pameran ini juga jadi ajang saling melihat karya. Bisa jadi referensi dan motivasi untuk berkarya,” jelas Yuliana. (dwi/laz)