RADAR JOGJA – Sebanyak 150 Industri Kecil Menengah (IKM) batik se-DIJ berpartisipasi dalam Pameran Litbang Kementerian Perindustrian Mendukung Hari Batik Nasional, 9-13 Oktober 2019, di Jogja Expo Center (JEC). Memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober. Dalam penyelenggaraanya tahun ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG) DIJ bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

“Ada yang beda dengan tahun lalu, karena berkolaborasi dengan Kemenperin,” ujar Kepala Disperindag DIJ Aris Riyanta saat ditemui usai acara pembukaan.

Mengusung tema Batik Nusantara Mendunia, pihaknya berharap agar batik bisa lebih banyak digunakan berbagai bangsa di dunia. Aris menjelaskan, produk yang dipamerkan tidak hanya batik dari IKM batik, tetapi juga hasil penelitan BPPI Kemenperin. Salah satunya adalah Batik Analyzer yang dikembangkan oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB), suatu alat dengan teknologi Artificial Intelligence untuk mendeteksi keaslian kain bermotif batik.

Kapuslitbang Kemenperin Sony Sulaksono mengatakan, melalui ini pihaknya mendukung daya saing industri batik nasional, di tengah gencarnya batik-batik dari negara luar yang murah yang bukan batik dalam pakem sebenarnya.

Batik Analyzer ini sifatnya deep learning, makin banyak contoh makin pintar, bisa mengonfigurasi mana batik asli, karena ada corak dan kekhasan tertentu yang tidak dimiliki batik printing atau lainnya yang bukan batik. Langsung dibedakan ini batik ini bukan,” papar Sony.

Disebutkan, teknologi dalam bentuk aplikasi digital ini akurasinya masih sekitar 75 persen, karena jumlah sample masih belum cukup banyak. Saat ini baru lima ribuan contoh batik dari target sekitar 10 ribu, supaya betul-betul akurat. “Suatu saat mudah-mudahan setelah HAKI-nya kami urus, bisa digunakan oleh masyarakat supaya bisa diunduh di ponsel, melalui playstore, appstore,” ungkapnya.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemprov DIJ Tri Saktiyana berharap penggunaan batik printing akan menurun, seiring peningkatan pendapatan masyarakat Jogjakarta. Apalagi, di Jogjakarta hanya ada produksi batik cap, tulis dan kombinasi cap dan tulis.

“Batik printing itu kan punya pangsa pasar masyarakat kelas menengah ke bawah. Tentu, untuk awalan oke lah, tapi dengan meningkatnya pendapatan dan apresiasi terhadap proses produksi batik yang menggunakan tangan, diharapkan pelan-pelan akan beranjak untuk menggunakan setidaknya batik cap atau batik tulis,” ungkapnya.

Selain pameran, acara yang tidak dipungut biaya ini dimeriahkan juga dengan fashion show kolaborasi IKM, desainer dan model profesional, seminar batik, dan workshop. (*/tif)