BAGI agama Islam, kalender tidak saja berfungsi sosial, tetapi juga berfungsi spiritual. Namun, peradaban Islam yang telah berdiri selama berabad-abad belum memiliki sistem penanggalan tunggal, dalam artian satu tanggal yang sama secara global. Prof Syamsul Anwar menyebut fenomena tersebut sebagai utang peradaban.

Fakta historis ini begitu memprihatinkan sebab umat Islam sedunia tidak dapat melakukan selebrasi keagamaan secara serempak menyambut momen-momen penting seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan puasa Ramadhan. Memang tidak mudah merealisasikan megaproyek ini, karena aspek-aspek Syariah dan astronomis harus dikaji secara seksama, di samping banjirnya kepentingan politis dan bisnis yang lumayan mengganggu.

Dalam rangka melunasi utang peradaban tersebut, Muhammadiyah mencoba untuk menawarkan sebuah konsep Kalender Islam Global. Upaya tersebut mendorong Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan acara Konsolidasi Hisab Paham Muhammadiyah di berbagai tempat di DIJ.

Sebelumnya, pada tahun 1939 ulama asal Mesir Ahmad Muhammad Syakir menulis sebuah kitab berjudul Awa’il al-Syuhur al-‘Arabiyah yang isinya tentang urgensi unifikasi tanggal kalender Islam. Secara terang-terangan beliau menolak perbedaan matlak, dan penerimaan hisab. Perjuangan Ahmad Muhammad Syakir dalam mewujudkan Kalender Islam Global terus menggelinding hingga akhirnya pada tahun 2016 Badan Urusan Agama Republik Turki menyelenggarakan Seminar Internasional Penyatuan Kalender Hijriyah. Menurut Prof. Syamsul, hasil voting dari peserta seminar tersebut mendapat respon positif, mayoritas menyetujui untuk segera diberlakukannya Kalender Islam Global.

Setelah seminar itu digelar, Kalender Islam Global belum juga menjadi penanda tanggal mainstream umat Islam hingga saat ini. Mereka lebih nyaman dengan Kalender Masehi Gregorian, sementara tanggal hijriah hanya menjadi pemanis dalam kop administrasi.

Dalam acara Konsolidasi Hisab Paham Muhammadiyah, Prof Syamsul menjelaskan beberapa prinsip yang harus dipenuhi agar kalender global segera cepat menggeser status quo kalender zonal (lokal).

Pertama, penerimaan hisab secara total. Menurut Prof Syamsul, pembuatan kalender mau tidak mau harus menggunakan perhitungan astronomis, karena sangat mustahil manajemen waktu terbuat dari aktivitas mengamati visibilitas bulan baru (hilal). Akan sangat merepotkan bila pembuatan kalender menggunakan rukyat, karena kaveran rukyat bersifat terbatas pada letak geografis tertentu pada hari pertama visibilitas hilal. Hal ini akan berakibat pada berbedanya tanggal hijriyah di berbagai tempat, pada akhirnya kita akan kembali lagi seperti kalender lokal.

Menurut Prof Syamsul, tidak   mungkin mewujudkan  kalender  Islam global  kecuali  dengan menggunakan  hisab sebagaimana kita menggunakan hisab untuk menentukan waktu-waktu salat. Hisab memang tidak menjadi metode utama yang digunakan Nabi Muhammad tatkala meninjau awal bulan,  namun isyarat-isyarat di dalam literatur al-Quran dan al-Hadis telah menunjukkan bahwa hisab merupakan metode yang kuat secara nash.

Prof Syamsul menilai kuatnya penggunaan rukyat di masyarakat ditenggarai dari hadis Nabi yang berbunyi, “Berpuasalah  kamu  karena  melihat  hilal (liru’yatih) dan beridulfitrilah  karena  melihatnya (liru’yatih).” Menurut Prof Syamsul, apabila memaknai hadis tersebut secara tekstual harfiyah, maka hasilnya akan problematis. Dengan melihat konteks ketika hadis itu diucapkan, umat Islam masih menjadi komunitas kecil yang tidak mungkin akan menemui perbedaan awal bulan. Namun di abad 21, Islam sudah tersebar di berbagai daratan muka bumi, sehingga penggunaan rukyat akan membawa  dampak  tidak  dapat  menyatukan  umat  Islam  dalam  memasuki  awal bulan  kamariah  baru.

Selain itu, menurut Prof Syamsul, apabila hadis tersebut dilihat dengan analisis kausasi (ta’lili), yaitu dengan melihat alasan mengapa Nabi menggunakan rukyat, maka kita akan tahu bahwa Nabi sedang menghadapi sebuah massa yang sepenuhnya belum menguasai tatacara menulis dan menghitung (ummi). Sehingga penggunaan rukyat merupakan satu-satunya alat bantu yang bisa dimungkinkan ketika itu. Berbanding terbalik dengan era sekarang, dimana ilmu astronomi paling mutakhir begitu spektakuler, sudah saatnya umat Islam bergerak maju menggeser rukyat ke hisab.

Kedua, transfer imkanu rukyat. Menurut Prof Syamsul, pada saat di suatu bagian dunia sudah imkanu rukyat, daerah lain belum mengalaminya, bahkan di tempat itu bulan masih di bawah ufuk. Keadaan ini menghendaki adanya prinsip transfer imkanu rukyat. Hal ini juga bisa disebut dengan rukyat global. Tidak banyak orang yang sadar bahwa sesungguhnya sejak lama Indonesia mempraktekkan transfer imakanu rukyat. Misalnya, imkanu rukyat yang terjadi di Kepulauan Riau, berlaku juga untuk daerah Ambon yang berada di kawasan timur Indonesia. Dalam skala internasional, imkanu rukyat yang terjadi di Buenos Aires, berlaku juga untuk kawasan New Delhi yang hilalnya masih di bawah ufuk.

Menurut Prof Syamsul Anwar, logika di atas tidak dapat dibalik di mana kawasan yang sudah imkanu rukyat, menunggu wilayah geografis lain yang belum imkanu rukyat. Karena itu, umat Islam yang berada di Buenos Aires tidak perlu menunggu terjadinya imkanu rukyat di New Delhi, sebab kalau imkanu rukyat telah terjadi, kita dilarang untuk melaksanakan ibadah puasa sebagaimana makna implisit hadis Nabi yang berbunyi “beridulfitrilah  karena  melihatnya (liru’yatih).” Dengan demikian, menurut Prof. Syamsul, diberlakukan prinsip transfer rukyat dari kawasan yang sudah imkanu rukyat ke kawasan yang belum mengalaminya.

Ketiga, kesatuan matlak (ditulis: mathla’) atau menjadikan bumi sebagai satu matlak. Menurut Prof Syamsul, seluruh muka bumi dipandang sebagai satu matlak sehingga apabila di suatu tempat di mana pun di muka bumi telah terjadi imkanu rukyat, maka itu dipandang berlaku bagi seluruh kawasan muka bumi. Dengan menerima prinsip ketiga ini, orang Timur wajib berpuasa berdasarkan rukyat orang Barat.

Selama ini matlak disekat oleh letak geografis suatu wilayah tertentu. Dongeng nasionalisme telah membuat kotak-kotak kecil yang membuat bumi tercerai-berai, bukan satu kesatuan yang utuh. Mitos negara bangsa berperan banyak dalam menyekat antar umat manusia yang menjadikan sulitnya menerima planet bumi sebagai satu matlak. Sehingga dengan pemahaman seperti ini mustahil akan terwujudnya kalender Islam global yang tidak membutuhkan mitos negara bangsa dan dongeng nasinalisme. Karena itulah, ijtihad kesatuan matlak merupakan terobosan berkemajuan yang dapat memungkinkan segeranya tercipta kalender unikatif.

Keempat, penerimaan Garis Tanggal Internasional. Garis Tanggal Internasional merupakan garis imajiner buatan manusia yang samasekali tidak berlandaskan benda-benda langit ataupun rotasi bumi. Garis tersebut hanyalah khayal yang berfungsi sebagai pembentuk awal dari sebuah hari, dan berperan besar dalam menyatukan seluruh dunia pada satu tanggal dari kalender Gregorian.

Menurut Prof. Syamsul, Garis Tanggal Internasional membatasi dua hari (tanggal berbeda), hari pada kawasan sebelah barat garis mendahului hari pada kawasan sebelah timur garis. Apabila hari pada kawasan barat tanggal 2 hari Jumat, maka hari pada kawasan timur baru tanggal 1 hari Kamis. Prof. Syamsul menegaskan bahwa seluruh umat manusia telah bermufakat peletakan garis batas tanggal tersebut pada 180 derajat BT.

Alasan utama memilih tempat itu sebagai Garis Tanggal Internasional karena keberadaannya yang lebih banyak lautan. Garis tersebut hanya melewati pulau-pulau kecil seperti Samoa, Tokelau, Kiribati, dan lain-lain. Keberadaan pulau-pulau itu membuat Garis Batas Internasional tidak benar-benar lurus lantaran ada kepentingan bisnis dan politis. Karena itu, akan sulit bila garis tersebut ditarik di banyak dataran tanah, karena hal itu akan menyulitkan kepentingan-kepentingan manusia dalam melakukan pertemuan antar wilayah.

Menurut Prof Syamsul, umat Islam secara de facto juga telah menerima peletakan garis batas internasional pada bujur 180 derjat BT. Hal ini dibuktikan dengan melaksanakan salat Jumat dengan menghitung hari Jumat dari garis tersebut.

Dengan keempat prinsip Kalender Islam Global yang telah dipaparkan di atas, semoga hal ini menjadi langkah lebar agar segera utang peradaban ini terlunasi. Bila hal ini terwujud maka yang akan merasakan dampak hebatnya tidak saja untuk warga persyarikatan tetapi juga untuk seluruh umat Islam di belahan bumi manapun. (ila)