RADAR JOGJA – Awal musim hujan diperkirakan mundur sampai November. Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan mengimbau masyarakat menyesuaikan masa tanam.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono telah melakukan sosialisasi kepada petani. Terkait musim hujan yang mundur dua dasarian.

Ada petani yang telah menebar benih. Yakni kecamatan di Sleman wilayah barat. Seperti Minggir, Moyudan, Seyegan, dan Mlati. Menggunakan saluran irigasi teknis Selokan Mataram.

“Sedangkan petani di Sleman bagian timur masih menanam tanaman pangan nonpadi karena minim air,” jelas Heru, Senin (7/10).

Heru mengatakan, bantuan bibit jagung bagi petani telah diberikan. Hal ini dilakukan karena berdasarkan perkiraan BMKG, musim hujan dimulai dari Sleman bagian utara dan barat.

Tidak hanya bibit jagung, DP3 juga mengajukan bantuan benih padi memasuki musim tanam pertama. Yakni 101 ton benih didominasi jenis Ciherang untuk lahan seluas 4.072 hektare.

“Saat ini mengajukan lagi untuk 2.200 hektare, namun masih proses,” tambah Heru.

Selain pembagian benih, pihaknya melakukan rehabilitasi jaringan irigasi. Tersebar pada 27 kelompok tani, jaringan irigasi yang direhabilitasi dapat mengaliri lahan sawah seluas 600 hektare.

Luas lahan tanam di Sleman mencapai 46 ribu hectare. Mampu memproduksi 146 ribu ton beras setahun. Serta 40 persen berkontribusi menjadi penyangga lumbung padi DIJ.

Awal musim hujan 2019/2020 diperkirakan lebih lambat. Karena faktor kondisi dinamis seperti suhu muka air laut yang masih dingin sampai Oktober 2019. Serta peralihan angin timuran ke baratan yang terlambat. Awal musim hujan dimulai November dasarian I sampai III.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Jogjakarta Etik Setyaningrum menjelaskan wilayah Sleman memiliki awal hujan sekitar Oktober akhir sampai November awal. Musim hujan lebih lambat satu sampai dua dasarian atau 10-20 hari.

Masyarakat perlu mewaspadai dampak negatif berupa banjir dan tanah longsor. Juga penurunan produksi tembakau dan penurunan rendeman tebu.

“Puncak musim hujan diperkirakan Januari 2020,” jelas Etik. (eno/iwa/fj)