RADAR JOGJA – Persis Solo, klub tempat Presiden Joko Widodo berasal sepertinya mulai menggeliat. Seiring dengan hampir selesainya revitalisasi Stadion Manahan Solo. Investor mulai tertarik melihat potensi bisnis sepak bola di Kota Bengawan tersebut.

Seperti sebelumnya dilansir dari Radar Solo, pengusaha migas Vijaya Fitriyasa disebut-sebut membeli 70 persen saham PT PSS. Sedangkan 20 persen saham sisa masih jadi milik PT SPN, dan 10 persen lainnya milik internal Persis.

Sebelumnya PT SPN memiliki 90 persen saham PT PSS yang akhirnya memiliki hak mengelola Persis di Liga 2 sejak 2017.

Dalam jumpa pers, Sabtu, (14/9), Direktur Utama PT PSS Eddy Junaidi memperkenalkan beberapa pengurus baru. Mulai dari Raja Pane yang dulu sempat menjadi LO PSSI Primavera di zaman Kurniawan Dwi Yuliyanto.

Lalu mantan pemain Persija Jakarta era 1980-an, Mimi Alqamar yang direncanakan menjadi CEO baru Persis Solo. Termasuk hadirnya dua mantan wartawan senior Erwiyantoro “Cocomeo” dan Yoen Moes yang akan ikut mengembangkan Persis.

Persis juga mengumumkan telah menunjuk Kahudi Wahyu Widodo sebagai asisten pelatih Persis yang akan mendampingi Choirul Huda di Liga 2 2019. “Persis harus dikelola oleh orang yang mengerti bola. Diharapkan hadirnya Pak Vijaya bisa membawa Persis dalam kemajuan yang lebih baik,” urai Eddy kala itu.

Eddy juga menyebut salah seorang petinggi Bali United pernah hendak membeli saham Persis. Termasuk memunculkan nama Erick Tohir (mantan pemilik klub Liga Italia Intermilan) di dalamnya.

Tapi, owner Persis Solo Sigid Haryo Wibosono menolaknya, karena mengetahui pemilik Bali United telah punya banyak klub di Indonesia, mulai dari Sulut United hingga PSIM Jogja.

“Karena kita tahu Bali United sudah punya enam klub, termasuk PSIM Jogja. Jelas kita tidak mau Persis bersanding dengan PSIM. Dan secara legalitas PT SPN punya hak untuk menjual PT PSS kepada pihak baru yang hendak mengelola Persis agar lebih profesional,” papar Eddy, pekan lalu.

Sementara itu di tempat yang sama, Presiden DPP Pasoepati Aulia Haryo mempertanyakan legalitas penjualan saham tersebut. Pihaknya sempat mendengar PT PSS mengungkapkan sudah menjual 70 persen saham. Dan Wali Kota Surakarta FX Rudy membantahnya.

“Kami ingin kepastian soal legalitas itu. Kami ingin ada solusi dan tak kembali ada permasalahan. Semoga sinkron dan tak ada polemik baru,” ungkapnya. (nik/wa/JPG)