Radar JogjaResign dari pekerjaan kantoran, lalu menjalani bisnis sendiri menjadi pilihan hidup yang kini sering diambil sebagian orang. Salah satunya Suhardi Widayanto. Karena sebuah alasan keluarga, dia memutuskan mengakhiri karirnya di Luar Jawa dan kembali ke Jogjakarta.

Awalnya pria yang akrab disapa Anto ini bingung untuk memulai usaha apa. Hingga akhirnya, hobinya bermain skateboard menjadi inspirasi untuk berbisnis kreatif. Melalui Kalaniwood. Sebuah brand aksesoris yang terbuat dari skateboard bekas.

Kalaniwood pertama kali dirintis bersama dua rekannya pada 2016. Ada belasan papan skateboard yang sudah patah dan rusak yang dia kumpulkan sejak 2001. Dan bersama dua rekannya Anto berpikir, kenapa tidak bikin sesuatu dari barang tersebut?

Bangkai skateboard yang terbuat dari kayu maple impor itu dia sulap menjadi cincin. Kemudian berkembang menjadi pernak pernik kecil lainnya seperti anting-anting, gelang, kacamata. Bahkan jam tangan yang dipadukan kain tenun dan tali kulit. “Terus aku unggah di media sosial. Banyak yang pesan ternyata. Ya sudah, jadi usaha sampai sekarang,” ujarnya.

Produk Kalaniwood melewati dua kali finishing. Agar jika kena terkena air atau hujan bisa langsung dikeringkan dengan lap atau sekadar diangin-anginkan. Namun untuk jam tangan tidak bisa kena air banyak-banyak. Karena bisa meresap ke mesinnya dan menyebabkan rusak.

Anto menjelaskan, kelebihan kayu maple impor sebagai bahan baku aksesoris adalah sifatnya yang ringan tapi kuat. Meskipun memakai kayu limbah, bukan kayu baru. “Warnanya, kalau dari papan skate tidak luntur dan menyerap sampai dalam,” tambahnya.

Keterampilannya ini dia dapat secara otodidak. Dari YouTube dan internet. “Karena background saya sebenarnya ekonomi,” ungkap lulusan S1 Ilmu Manajemen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta ini.

Hingga saat ini Kalaniwood masih dipasarkan secara daring dan dititipkan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman. Dengan harga Rp 35 ribu untuk pernik-pernik, Rp 450 ribu – Rp 600 ribu untuk kacamata, dan Rp 425 ribu untuk jam tangan. “Untuk ke depan, baru deal masukin ke toko-toko kerajinan di Jogja,” katanya.

Dia tak hanya melayani pembeli dari Jogja. Tapi juga luar daerah. Beberapa kali saat mengikuti pameran, wisatawan mancanegara juga membeli produknya sebagai suvenir. Motif dan desain yang cenderung warna-warni, menyasar segmentasi pasar anak muda. Meskipun Anto mengaku tak jarang juga produknya dibeli nenek-nenek. (tif/din)