PERPISAHAN antara  Sunan Kuning dengan Raden Mas (RM) Said diliputi suasana haru. Perjalanan hidup kedua bangsawan Mataram punya banyak kemiripan. Usia hampir sepantaran. Keduanya sama-sama cicit Susuhunan Amangkurat I, raja Mataram saat beribu kota di Plered.

Ayah RM Garendi, nama asli Sunan Kuning adalah Pangeran Tepasana. Dia anak Sunan Amangkurat III. Sedangkan Said putra dari Pangeran Mangkunegara Kartasura. Ayahanda Said merupakan anak Sunan Amangkurat IV.

Namun harap diingat, Amangkurat IV bukanlah anak atau keturunan Amangkurat III. Status keduanya hanyalah saudara sepupu. Amangkurat IV, putra Sunan Paku  Buwono I atau Pangeran Poeger. Sedangkan Amangkurat III anak Amangkurat II, kakak tiri Pangeran Poeger.

Paku Buwono I ini paman dari Amangkurat III. Sekaligus pernah menjadi mertuanya. Selain saudara sepupu, Amangkurat III merupakan bekas kakak ipar dari Amangkurat IV. Takhta Amangkurat III digusur oleh Paku Buwono I.

Meski leluhurnya terlibat sengketa suksesi, Garendi dan Said dipertemukan pada nasib yang sama. Ayah Garendi, Pangeran Tepasana menjadi korban intrik politik di istana Kartasura. Demikian pula dengan Pangeran Mangkunegara Kartasura, ayahanda Said. Kedua pangeran itu tersingkir dari istana Kartasura di masa Paku Buwono II.

Ketika tumbuh dewasa, Garendi dan Said sama-sama mengangkat senjata melawan VOC. Mereka menjalin aliansi dengan laskar Tionghoa di bawah Kapitan Sepanjang. Hasilnya sungguh gemilang. Istana Kartasura pernah mereka jatuhkan.

Mereka memaksa Paku Buwono II harus meninggalkan takhtanya. Selama setengah tahun Garendi jumeneng (naik takhta) menjadi raja Mataram. Tepatnya antara Juni hingga November 1742. Garendi memakai gelar Sunan Amangkurat V.

Said kemudian diangkat menjadi panglima perang. Bergelar Pangeran Prangwadana. Sejarah mencatat, Garendi merupakan raja terakhir Mataram yang memakai sebutan Amangkurat. Lantaran didukung laskar Tionghoa berkulit kuning, Amangkurat V lebih populer dengan sapaan Sunan Kuning

Perpisahan Sunan Kuning dengan Said membuat kekuatannya semakin berkurang. Satu-satunya harapan hanya ada di tangan Kapitan Sepanjang. Melemahnya kekuatan Sunan Kuning sudah terasa sejak 15 Oktober 1742. Singseh, salah satu komandan laskar Tionghoa tewasnya saat bertempur dengan VOC di lepas Pantai Lasem.

Setelah tersingkir dari istana Kartasura, pendukung Sunan Kuning tercerai berai. Kabar buruk datang dari Tumenggung Mangunoeng. Bekas bupati Pati yang diangkat menjadi patih Sunan Kuning melanjutkan perlawanan di Begelen. Namun Mangunoneng akhirnya menyerah di Tegal pada pertengahan 1743.

Satu-satunya perlawanan ditunjukkan Said dan Bupati Grobogan Martapuro. Kedua pendukung utama Sunan Kuning itu membuat markas perjuangan di Sukowati, di timur Kartasura. Said bersama Martapuro belum menunjukkan tanda-tanda menyerah. Strategi yang dipakai dengan perang gerilya. Beberapa kali mereka sukses menghajar pasukan VOC.

Perlawanan sengit Said dan Martapuro berbanding terbalik dengan Sunan Kuning. Keadaannya semakin terdesak. Dari Madiun, Sunan Kuning singgah di Kediri pada akhir Juli 1743. Rencananya, perjalanan dilanjutkan ke Surabaya.

Dua bulan kemudian, Sunan Kuning bersama Kapitan Sepanjang bergabung dengan keturunan Untung Surapati. Mereka melakukan gerilya di daerah Surabaya selatan. Saat  bertempur melawan serdadu VOC, Sunan Kuning terpisah dari kawalan Sepanjang.

Sejak Sepanjang tidak lagi ada di dekatnya, Sunan Kuning menghadapi kendala melanjutkan perlawanan. Tak ada lagi panglima-panglima perang yang mendampingi. VOC membaca betul situasi itu. Amangkurat V diundang untuk sebuah perundingan di rumah Residen De Klerk di Surabaya.

Dikawal 300 prajurit dan didampingi sejumlah istrinya, Sunan Kuning memenuhi undangan itu. Usai perundingan itu, Sunan Kuning ditangkap. Dia dibawa ke Batavia melalui Semarang. Dari Batavia Amangkurat V diasingkan ke Ceylon atau Sri Lanka hingga wafat.

Saat ditahan di Semarang, prajurit Sunan Kuning, kebanyakan orang Tionghoa dieksekusi mati. Mereka dimakamkan di daerah Kalibanteng Kulon, Semarang. Sebagian orang menyebutnya sebagai makam Sunan Kuning.

Kompleks pemakaman berarsitektur Tionghoa belakangan justru lebih dikenal menjadi kawasan lokalisasi. Mulai Agustus 2019, Pemkot Semarang menutup lokalisasi SK, akronim dari Sunan Kuning yang berada tak jauh dari kompleks pemakaman itu. (laz)