PENGUASA VOC di Semarang Visscher masih sibuk dengan keyakinannya bahwa pemberontakan bersama orang Tionghoa dan Jawa tidak mungkin terjadi. Dia sesumbar siap menghadapi pemberontakan yang melibatkan 30 ribu orang.

Visscher tidak sadar keinginannya menyeret Mataram dalam perang melawan Tionghoa akan dibaca oleh masyarakat Jawa sebagai kelemahan VOC. Sejarah menunjukkan, di masa lalu Kompeni selalu dapat mengatasi semua pemberontakan yang dilakukan siapa pun tanpa bantuan Mataram. Elite Mataram menilai permintaan bantuan itu mengindikasikan Kompeni sedang dalam kondisi lemah. Mereka berpendapat inilah momentum yang tepat mengusir VOC.

Dalam perkembangan berikutnya, secara sporadis terbentuk laskar-laskar Tionghoa. Di Grobogan bersiaga lebih dari seribu orang. Sebagian dari mereka adalah orang Jawa. Terbanyak konsentrasi massa ada di Tanjung atau Welahan, Jepara, dan seputaran Semarang.

Memasuki 23 Mei 1741, Juwana diserbu orang-orang Tionghoa. Ada sembilan pegawai VOC ditangkap. Mereka digiring ke Welahan dalam satu pawai kemenangan. Di sepanjang perjalanan para tahanan itu dibunuh. Residen VOC di Demak  minta mundur ke Semarang, namun ditolak. Visscher Semarang mengirimkan 100 pasukan Kompeni pribumi di bawah komando letnan muda Bali.

Dalam situasi itu, Visscher semakin kalut. Rasa frustasinya makin memuncak. Investasinya yang  ditanam pada Kapten Khe Yonko ikut lenyap. Dia teperdaya dengan langkah-langkah politik Sunan Paku Buwono II.

Visscher teramat gembira saat mengetahui empat bupati, yakni Bupati Tuban Suradiningrat, Bupati Grobogan Martopuro, Bupati Kaliwungu Suradimenggala, dan Bupati Kendal Awangga tiba di Semarang.

Empat bupati itu datang atas perintah Sunan. Mereka mengaku diutus untuk membantu VOC.

Menghadapi pemberontak Tionghoa. Empat bupati ini menjanjikan bantuan pasukan sebanyak enam ribu orang. Demi keperluan tersebut, mereka minta izin kembali ke daerahnya guna mengumpulkan pasukan sebagimana sudah dijanjikan.

Visscher  percaya dengan janji itu. Dengan penuh harapan dia menunggu datangnya bantuan. Tapi pasukan yang dijanjikan empat bupati itu tak kunjung nongol di Semarang. Mereka rupanya berhasil mengelabui petinggi Kompeni. Janji itu tak pernah terealisasi.

Sebaliknya, pasukan yang mendekat justru orang-orang Tionghoa dari Batavia. Setelah bertempur melawan pasukan Kompeni di bawah komando Abraham Roos di daerah Karawang, pasukan Tionghoa di bawah Khe Panjang -oleh orang Jawa dinamakan Kapitan Sepanjang- mulai memasuki Cirebon. Sejak 1703 Cirebon telah jatuh ke genggaman VOC.

Para penguasa pribumi di Cirebon berupaya menghadang. Namun upaya itu ternyata hanya setengah hati. Mereka melakukan itu agar tidak dicurigai Kompeni ikut mendukung pemberontak. Pada dasarnya mereka bersimpati dengan orang-orang Tionghoa.

Sebagian pasukan pribumi secara terbuka membantu pasukan Tionghoa. Rombongan Kapitan Sepanjang menyereberangi Sungai Losari tanpa kesulitan. Ini berarti para pemberontak Tionghoa telah berada di wilayah Mataram. Dari Cirebon, pada Juni 1741 mereka bergerak menuju Tegal.

Masyarakat Tionghoa lokal di bawah koordinasi Kwee Lak Kwa menyambut gembira kedatangan pasukan Kapitan Sepanjang. Mereka  berkolaborasi menyerang pos-pos Kompeni di Tegal dan sekitarnya. Menghormati kepahlawanan Kwee Lak Kwa, orang Tionghoa di Kendal membangun Kelenteng Tek Hay Kiong. Dari Tegal, pasukan Kapitan Sepanjang melanjutkan perjalanan menuju Kedu.(yog/fj/bersambung)