KETERLIBATAN pasukan Demak ikut menyerang orang-orang Tionghoa menimbulkan kemarahan Susuhunan Paku Buwono II. Raja merasa dilangkahi. Sunan memerintahkan memanggil para bupati pesisir menghadap ke Istana Kartasura.

Dalam pertemuan itu Sunan memberikan instruksi. Para bupati pesisir dilarang mengambil langkah apa pun terhadap orang-orang Tionghoa. Sebelum mendapatkan perintah langsung dari raja.

Perintah Sunan tersebut sebagai kesimpulan yang diambil sebelum pertemuan dengan para bupati pesisir. Ada tiga pendapat yang mengemuka. Pertama, Bupati Pekalongan Jayaningrat menginginkan Mataram berpihak ke VOC.

Pendapat kedua diajukan Bupati Grobogan Martapuro. Dia memperkirakan perang berakhir dengan kemenangan Tionghoa. Pendapat ketiga diusulkan para bupati lainnya.

Mereka ingin menunggu perkembangan hingga keputusan terakhir ini yang disetujui oleh Sunan. Dalam perdebatan memilih kawan, soal agama ikut menjadi bahasan.

Jayaningrat yang berdarah Tionghoa memilih bersekutu dengan Belanda. Dalilnya, orang Belanda dengan Jawa punya nabi yang sama. Isa dalam Islam dan Yesus bagi orang Belanda.

Sebaliknya, orang Tionghoa dinilai sebagai penyembah berhala. Namun pandangan itu ditolak Martapuro. Dia mengatakan, yang dipertimbangkan dalam memilih kawan adalah sifat dan perilaku. Bukan menyangkut agama yang dianut.

Suhu politik yang semakin panas di Jawa menyadarkan Gezaghebber (penguasa) VOC di Semarang Bartholomeus Visscher. Meski masih dibayangi kebimbingan, dia membuat langkah ke depan.

Visscher menyurati para bupati di Mataram. Isinya berupa permintaan agar mereka itu menahan atau menghabisi setiap kelompok Tionghoa yang mencurigakan. Namun terhadap orang-orang Tionghoa yang tidak berniat jahat agar tidak diganggu.

Selain bupati, surat senada dikirimkan kepada Paku Buwono II. Menanggapi itu, raja Mataram memberikan jawaban bernada sedikit ejekan. Sunan menyebutkan, selama ini tak pernah ada kejadian orang Jawa menahan orang Tionghoa.

Bukankah orang Tionghoa bawahan Kompeni? Namun karena VOC menginginkan agar orang Tionghoa jahat dibunuh, maka Sunan bersedia bekerja sama. Raja meminta VOC menjelaskan tanda-tanda yang dimiliki oleh Tionghoa jahat. Ini demi menghindari terjadinya salah bunuh pasukan Mataram kepada orang-orang Tionghoa.

Di sisi lain, Visscher meyakini orang Tionghoa di Jawa tak berani berontak. Orang Tionghoa dari Batavia adalah pelarian yang sekadar ingin menyelamatkan diri. Para bupati diperkirakan tetap loyal. Penguasa VOC di Semarang ini juga meragukan nyali Paku Buwono II berpihak ke kelompok Tionghoa.

Kompeni mengetahui Sunan sedang menghadapi masalah internal. Ada bibit-bibit permusuhan dari kerabatnya. Termasuk dari ipar Sunan, Bupati Madura Cakraningrat. Ternyata analisis Visscher itu keliru. Paku Buwono II merasa kecewa dengan VOC karena enggan membantu memerangi Cakraningrat.

Dampaknya timbul niat Sunan mengevaluasi ulang hubungan dengan Kompeni.
Dalam percakapan dengan ibundanya, Ratu Amangkurat, terungkap sikap Paku Buwono II.

Dikatakan, dalam sejarah belum pernah terjadi Mataram membantu peperangan yang dilakukan VOC. Yang seharusnya berlaku adalah loyalitas Kompeni membantu Sunan melawan para bupati yang memberontak terhadap kekuasaan Mataram.

Sunan merasa kompensasi yang diberikan Mataram ke VOC cukup besar. Namun saat diminta menumpas Cakraningrat, Kompeni selalu menolak. Paku Buwono II memutuskan bila VOC meminta bantuan memerangi pemberontak Tionghoa, dirinya akan menolaknya.

Mataram akan berpura-pura membantu. Tapi itu sekadar tipu daya semata. Pernyataan ini disampaikan Paku Buwono II kepada pemimpin pemberontak Tionghoa yang sowan menghadapnya di Istana Kartasura. Sikap Sunan mulai bergeser. Bersimpati pada perjuangan kaum Tionghoa. (yog/bersambung)