SLEMAN – Imbauan demi imbauan pemerintah agar tak mencuci jeroan hewan kurban di sungai tidak mempan. Minggu (11/8) jamak panitia Hari Raya Kurban yang masih memanfaatkan aliran sungai untuk membersihkan jeroan. Salah satunya di Selokan Mataram.

Ada empat kelompok yang mencuci di Selokan Mataram di wilayah Trihanggo, Sleman, itu. Padahal, kondisi air keruh. Banyak pula sampah yang hanyut maupun tersangkut. ”Di masjid tidak ada lahan,” tutur Eko Saputra, seorang panitia kurban.

Eko menyadari betul mencuci jeroan di Selokan Mataram tak higienis. Jeroan rawan terkontaminasi. Apalagi, hampir 80 persen kondisi air sungai di wilayah Sleman tercemar E.coli (escherichia coli).

”Tidak apa-apa karena nanti pas mau dimasak pasti dicuci lagi,” katanya.
Pria 25 tahun ini menyebut hampir saban tahun selalu memanfaatkan aliran Selokan Mataram. Alasannya, praktis. Lantaran kotoran jeroan langsung hanyut terbawa arus. Apalagi, jeroan yang dicuci cukup banyak. ”Tiga ekor sapi dan sembilan ekor kambing,” ucap warga Mranggen, Margodadi, Seyegan, Sleman, ini.

Wirawan, warga Nambungan, Tlogoadi, Sleman juga melakukan hal serupa. Pria 45 tahun ini baru kali pertama memanfaatkan Selokan Mataram untuk mencuci jeroan. Biasanya, panitia kurban mencucinya di Sungai Bedog.

”Debit air Sungai Bedog sedang turun,” ucap Wirawan yang mencuci bersama puluhan remaja masjid kampungnya.

Yang berbeda, panitia kurban di Nambungan langsung membagikan jeroan kepada penerimanya. Tanpa dibersihkan lagi. Wirawan meyakini jeroan itu sudah higienis.

Ketika disinggung hal itu mencemari dapat sungai, Wirawan membantahnya. Sebaliknya, Wirawan justru berdalih bahwa kotoran atau isi jeroan bisa menjadi konsumsi ikan.

Praktik serupa juga terjadi di Kulonprogo. Persisnya di Desa Giripeni, Wates. Sebagian panitia kurban mencuci jeroan di Sungai Serang. Joko Purnomo, panitia kurban mengatakan, aliran sungai hanya dimanfaatkan untuk mencuci sisa-sisa kotoran. Sebab, isi jeroan telah dikubur dalam tanah. ”Setelah dari sungai masih kami cuci lagi dengan air bersih,” katanya.

Melihat fenomena itu, Ketua Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) AG Irawan mengingatkan, jeroan memiliki kandungan pencemar yang tinggi. Bahkan, kandungan konsentrat tinggi jeroan bisa memicu E.coli.
”Terutama E.coli tinja,” ingatnya.

Karena itu, mencuci jeroan di sungai kian menambah sumber pencemar. Toh, sungai selama ini telah tercemar dengan berbagai jenis sampah rumah tangga.
Irawan meyakini sebagian panitia kurban mengetahui bahwa mencuci jeroan di sungai adalah keliru. Namun, panitia tetap melakukannya.
”Karena ingin praktisnya saja,” ujarnya.

Berbekal keyakinan itu, Irawan optimistis aktivitas mencuci jeroan di sungai bisa diminimalisasi. Bahkan, panitia kurban kelak bisa diarahkan mengelola limbah dengan baik.

”Membangun persepsi publik terkait mengelola limbah butuh waktu, energi, dan perjuangan tersendiri. Agar tidak terjadi salah penerimaan yang menjadikan konflik,” tutur Irawan menyebut FKSS dalam tiga tahun terakhir intens memberikan edukasi perihal bahaya mencuci jeroan di sungai.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Harjanto mengatakan, dinas sejak jauh-jauh hari menyosialisasikan perihal imbauan tak mencuci jeroan di sungai. Sebab, praktik itu memiliki berbagai dampak. ”Yang jelas mencemari air sungai. Apalagi, sungai itu digunakan untuk pertanian, kadang juga untuk mandi,” katanya.

Dampak lain adalah jeroan rentan terkontaminasi bakteri. Khawatirnya, bisa menyebabkan diare jika dikonsumsi.

Pada bagian lain, beberapa ekor hewan kurban yang disembelih kemarin mengidap cacing hati. Termasuk di antaranya sapi kurban Wakil Gubernur DIJ Pakualam X. ”Organ dalam yang ada cacing hatinya disingkirkan dan dikubur,” kata Tri Kusumo, pengurus takmir Masjid Besar Pakualaman.

Berdasar data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jogja, ada 111 temuan hewan kurban yang mengidap cacing hati. Sebanyak 110 temuan di antaranya pada sapi. Sisanya pada kambing. ”Temuan terbanyak di Ngampilan. Ada 18 temuan,” jelas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jogja Sugeng Darmanto.

Temuan cacing hati di Kabupaten Bantul juga tak kalah banyak. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Bantul Joko Waluyo mencatat, ada 223 temuan cacing hati. Tahun lalu 314 kasus. ”Itu pun jumlah kurban tahun ini lebih banyak. Ada 18.823 ekor. Tahun lalu 18.729 ekor,” sebutnya. (har/tom/dwi/cr6/zam)