Jahe merah kaya manfaat dan khasiat. Tanaman bernama latin Zingiber officinale ini ternyata mampu menghambat kerusakan ginjal kronis.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman

Adalah Nada Hanifah, Yusuf Farid Achmad, dan Aida Humaira. Tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) itu berhasil mengolah jahe merah menjadi obat mujarab. Mereka menyebutnya Zaha.

Bermula dari kekhawatiran akan penyakit ginjal kronis (PGK). Terlebih PGK biasanya muncul perlahan dan menjadi penyakit yang bersifat menahun. Penyebab tertinggi karena diabetes dan hipertensi. Dengan prevalensi kematian tertinggi nomor lima di Indonesia.

Jahe merah mengandung beberapa senyawa penting. Seperti gingerol, shogaol, flavonoid, dan aktivitas antioksidan. Senyawa-senyawa itu berfungsi menghambat enzim penyebab vasokonstriksi dan menurunkan tekanan darah.

Orang yang memiliki hipertensi akan membuat enzim renin pada ginjal meningkat dan memicu angiotensin I juga meningkat. Adanya enzim angiotensin converting enzyme (ACE) yang bertemu dengan angiotensin I akan menghasilkan angiotensin II yang bisa meningkatkan tekanan darah.

Untuk bahan ramuan, ketiganya mendapatkan jahe merah dari kelompok tani di wilayah Mlati, Sleman. Dipilih karena memiliki jaminan varietas yang sama dengan usia jahe yang sudah terukur. Jahe akan dideterminasi untuk memilah spesies jahe.

Formulasi tersebut didapatkan dari ekstrak jahe merah yang diformulasikan dengan teknologi nanoemulsi. Teknik ini untuk meningkatkan kelarutan dari ekstrak jahe merah dan memberikan stabilitas dan biovailabilitas yang lebih baik. Ekstrak yang sudah siap kemudian dicampur dengan virgin coconut oil (VCO), surfaktan, cosurfaktan, dan aquadest sebanyak 70 persen. Untuk menghasilkan formula Zaha. “Kandungan antioksidan pada jahe merah mencapai 72 persen untuk menurunkan stres oksidatif. Dan disinilah formula Zaha bekerja untuk menghambat kerja enzin ACE,” jelas Nada Hanifah.

Tikus dengan gagal ginjal kronis menjadi objek uji coba mereka. Formula Zaha tadi juga diujikan pada tikus sehat. Untuk dilihat perbandingan hasilnya. Pemilihan tikus didasarkan pada kesamaan fisiologis yang dimiliki dengan manusia. Formula Zaha diminumkan kepada tikus sehat dan sakit selama seminggu. “Ada pula tikus yang sakit namun tidak diberikan formula Zaha,” tambah Yusuf Farid Achmad.

Hasil uji coba pada tikus dengan gagal ginjal kronis menunjukkan tingkat kerusakan ginjalnya bisa dihambat. Padahal sebelumnya saluran ginjal tikus itu telah tersumbat. Tikus itu juga mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan. Dibandingkan dengan tikus tanpa Zaha.

Meskipun sudah berhasil pada hewan mamalia, formulasi ini belum akan disebarluaskan untuk dikonsumsi manusia. Ketiga peneliti muda itu masih akan menguji coba Zaha untuk kelompok hewan mamalia besar. Dengan jumlah yang lebih banyak. Juga uji coba untuk mengetahui waktu reaksi Zaha pada hewan, sehingga mampu menekan peningkatan enzim. “Kami berharap Zaha bisa menjadi alternatif pengobatan penyakit ginjal kronis dengan faktor hipertensi,” ungkap Yusuf.(yog/rg)