SLEMAN – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sleman banjir keluhan. Puluhan tenaga pengajar di lingkungan madrasah mengajukan keberatan perihal kebijakan mutasi masal yang digulirkan Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag DIJ.

Ada beberapa faktor yang mendorong para tenaga pengajar ini mengajukan keberatan. Yang mendominasi adalah jarak dan kondisi kesehatan.

”Jaraknya lebih jauh lagi sekarang,” keluh Su, guru salah satu MTsN yang mengajukan keberatan saat ditemui Rabu (7/10).

Guru yang berdomisili di Sambilegi, Prambanan, Sleman, ini memang hanya dimutasi di wilayah Sleman. Hanya, bertambahnya jarak antara rumahnya dan sekolah itu membuat Su ketar-ketir. Selain memiliki riwayat penyakit asma, Su sejak 2013 menderita autoimun.

”Yang awalnya systemic lupus erythematosus (SLE), sekarang kondisinya sudah berkembang menjadi krisis addison,” tuturnya.

Dengan menempuh perjalanan puluhan kilometer, Su khawatir autoimun akan merusak tubuhnya. Menyusul faktor kelelahan.

Setali tiga uang, Sulardo. Di usianya yang menginjak 56 tahun, kondisi fisik Sulardo menurun. Guru mata pelajaran bahasa Indonesia ini merasa tak sanggup lagi mengendarai sepeda motor jarak jauh. Karena itu, guru yang tinggal di Prambanan, Sleman, ini keberatan dengan mutasi.

”Dari MTsN 8 Sleman dimutasi ke MTsN 4 Sleman,” ucap Sulardo menyebut perpindahan tugas yang diterimanya.

Dengan surat keputusan (SK) mutasi, Sulardo hanya bertukar posisi dengan Ali Nursalim. Karena itu, Ali Nursalim mengkritik mutasi masal tidak bertujuan memperbaiki mutu pendidikan madrasah secara merata. Melainkan hanya jebol desa. Di MTsN 4 Sleman, misalnya, ada 11 guru yang dimutasi. Termasuk di antaranya guru yang menjabat wali kelas.

”Itu bisa memengaruhi siswa. Berbagai inovasi yang dicetuskan untuk memajukan prestasi nanti juga bisa hilang,” ujarnya.

Sebagai aparatur sipil negara, Ali menyadari betul mutasi merupakan hal wajar. Bahkan, diperlukan. Namun, Ali meminta Kemenag mengkaji rencana mutasi dengan matang. Tidak sekadar mendekatkan rumah guru dengan sekolah. Sebab, kebijakan mutasi masal kali ini menyisakan beberapa masalah lain. Di MTsN Seyegan, misalnya, terjadi penumpukan guru. Ada empat guru yang mengampu mata pelajaran olahraga.

”Guru tidak mendapatkan jam pelajaran,” ketusnya.

Seperti diberitakan, Kanwil Kemenag DIJ melakukan mutasi masal. Ada 475 guru madrasah se-DIJ dimutasi awal bulan ini. Mereka adalah guru madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), dan madrasah aliyah (MA). Kemenag beralasan kebijakan mutasi, antara lain, untuk penataan guru. Juga mendekatkan rumah guru dengan sekolah. Namun, tidak sedikit guru yang harus menempuh jarak lebih jauh lagi. Itu akibat database yang digunakan Kemenag sebagai dasar mutasi tidak update.

Dikonfirmasi terpisah, Kasubbag Tata Usaha Kantor Kemenag Sleman Sidik Pramono membenarkan bahwa tidak sedikit guru madrasah yang mengajukan keberatan. Sidiq menyebut hingga Senin (8/7), ada 30 dari 138 guru termutasi yang mengajukan keberatan. Berbagai keluhan ini akan diteruskan ke kanwil sebagai bahan pertimbangan.

”Harapannya ada kebijakan baru untuk menyesuaikan keadaan guru,” ucapnya singkat. (cr7/zam/rg)