CAIRNYA kembali hubungan Susuhunan Amangkurat I dengan Pangeran Purbaya berkat mediasi Ratu Batang membuat situasi politik Mataram relatif stabil. Sebelumnya, kelompok-kelompok oposisi juga berhasil dilumpuhkan.

Tak ada kegaduhan. Kondisi itu memuaskan sebagian besar rakyat Mataram. Mereka merasa puas dengan kepemimpinan anak Sultan Agung itu. Tingkat kepuasan publik lebih dari 70 persen. Kinerja Amangkurat I digambarkan mirip dengan prestasi yang ditorehkan ayahandanya saat memimpin.

Lima tahun pertama, sektor ekonomi Mataram tumbuh pesat. Pendapatan kerajaan digambarkan surplus. Ekspor barang-barang Mataram ke mancanegara berjalan lancar. Khususnya ekspor pangan seperti beras, gula jawa, jagung, ketan, dan lain-lain. Panen petani melimpah. Situasi Mataram dilukiskan sebagaimana cerita pewayangan gemah ripah loh jinawi.

Selain itu, Amangkurat I mendapatkan warisan kas negara dari ayahnya yang lumayan besar. Keadaan ini membuat raja mulai berpikir membangun infrastruktur kerajaan. Terutama menata ulang tata kota. Dia menilai ibu kota Mataram era ayahnya di Kerta sudah banyak ketinggalan.

Amangkurat I membandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Cirebon dan Banten setelah mengadakan kunjungan kerja ke mancanegara. Bangunan Istana Kerta yang sebagian besar terbuat dari kayu sudah saaatnya diganti. Begitu pikiran raja.

Dua tahun setelah bertakhta pada 1647, Amangkurat I memutuskan memindahkan ibu kota Mataram. Untuk kali kedua pusat kerajaan dipindah. Dari Kotagede pindah ke Kerta. Sekarang dari Kerta bergeser ke Plered. Lokasinya berjarak 2 kilometer sebelah timur Kerta. Ibu kota baru itu dinamakan Plered.

Susuhunan ingin memakai bahan dasar bata. Baik tembok keliling keraton maupun seluruh bangunan istana. Dia merasa cukup percaya diri. Uang kerajaan sangat cukup untuk membangun istana baru.

Karena itu, raja menolak mentah-mentah usulan agar skema pembangunan ibu kota Plered menggunakan cara utang. Ada beberapa saudagar dari Portugis dan Belanda yang menawari utang. Bahasanya pinjaman lunak. Bisa dikembalikan kapan pun. Atau dapat dibarter dengan beras dan produksi pangan Mataram lainnya.

Namun sikap raja sangat tegas. Demi menjaga marwah, kewibawaan dan harga diri bangsa Mataram, Amangkurat I menampik semua tawaran itu. Tidak perlu utang. Mataram punya banyak uang.

Memulai pembangunan ibu kota baru, Amangkurat I mengadakan rapat kabinet. Lokasinya masih di istana lama di Kerta. Di depan para pembesar Mataram, raja menyampaikan pidato kenegaraan. Isinya, pertama, menetapkan Plered sebagai ibu kota baru.

Kedua, mencanangkan selama lima tahun ke depan, dimulai sejak 1647, sebagai tahun infrastruktur. Mataram akan banyak membangun infrastruktur di ibu kota baru. Ketiga, raja mengajak rakyat bekerja keras mewujudkan cita-cita itu. Ada jargon yang ditanamkan demi memompa semangat rakyat Mataram. Yakni bekerja, bekerja, dan bekerja.

Rakyat diperintahkan membuat batu bata. Kelak ratusan tahun kemudian, masyarakat Plered, Bantul masih melanjutkan tradisi memproduksi batu bata. Bahkan hingga sekarang Plered termasuk penghasil batu bata. Sebuah tradisi warisan yang ditinggalkan Amangkurat I.

Pembangunan ibu kota baru itu sebagai megaproyek Mataram. Tidak kurang 300 ribu tenaga kerja dikerahkan. Demi mempercepat selesainya pembangunan, Amangkurat memerintahkan agar menambah jumlah pekerja. Matatam memutuskan mengimpor tenaga kerja dari Karawang.(yog/rg/bersambung)