, Sultan  memutuskan mengurung diri. Selama 40 hari. Raja tidak menampakkan aktivitas ke publik. Raja berdiam diri di Ndalem Prabayeksa.

Kondisi itu menimbulkan keresahan di elite istana. Sultan kemudian memanggil Wiraguna dan Alit. Raja memberikan wejangan sekaligus teguran. Para pelapor dinilai bertindak tidak bijaksana.

Sultan mengingatkan bahaya yang diterima para pelapor jika kelak putra mahkota naik takhta. Lagi pula hal yang jamak seorang pangeran muda berbuat nakal. Sekali-sekali jajan di luar.

Teguran tajam juga diberikan kepada Sayidin. Sebelum memanggil putra mahkota, Sultan lebih dulu bertukar pikiran dengan permaisuri, Ratu Batang. Sayidin diberi nasihat agar bertindak lebih bijaksana. Dia minta lebih rendah diri. Menjaga kehormatan sebagai putra raja.

Di sini peran penting Ratu Batang.  Permaisuri yang akrab disapa Kanjeng Ratu benar-benar figur sentral di Mataram. Setiap langkah terkait kerajaan, Sultan selalu mengajak bicara sang istri.

Beberapa kebijakan strategis diketahui dari pemikiran Kanjeng Ratu. Misalnya penataan pejabat di lingkungan istana. Sejumlah pejabat Mataram berhasil menggapai posisi penting berkat restu Kanjeng Ratu.

Sebaliknya,  beberapa pejabat lain harus rela terpental dari kedudukannya. Gara-gara enggan ngabiyantara (sowan/menghadap) ke Ndalem Kulon, kediaman Ratu Kulon, kedudukan resmi Ratu Batang selaku permaisuri utama raja.

Pengaruh Ratu Batang sulit terbantahkan saat raja menggelar sidang guna mengadili perkara putra mahkota. Jauh sebelum sidang, Ratu Batang telah menasihati Sayidin agar mengundurkan diri dari segala aktivitas politik selama beberapa waktu.

Pertimbangannya demi meredam aksi-aksi kelompok oposisi yang mengincar kedudukan putra mahkota. Termasuk adiknya, Pangeran Alit, yang telah berkoalisi dengan Wiraguna dan elite kerajaan lainnya.

Nasihat sang ibu itu dituruti. Di depan sidang Sayidin menyatakan mundur dari segala jabatan di istana. Dia kemudian menetap di rumah gurunya, Tumenggung Mataram. Dia juga memerintahkan pengikutnya mengembalikan istri muda Wiraguna dengan tandu ditutup kain linen warna putih sebagai perlambang duka.

Di rumah Wiraguna tak bisa menahan amarah. Dia menghunus keris dan membunuh istrinya dengan lima hingga enam tusukan. Mendengar kejadian itu, putra mahkota sedih. Dia tidak mau bergaul dengan perempuan selama tiga tahun 1637-1640.

Menunjukkan rasa salahnya, Sayidin mencukur rambutnya dan menyerahkan kepada rakyatnya. Sultan Agung merasa puas dengan kearifan putra mahkota. Sebaliknya, raja marah dan mencela keberingasan Wiraguna. Anak buahnya itu dinilai bertindak bodoh.

Atas masukan permaisuri, Sultan memanggil Sayidin pulang ke istana. Hak politiknya dipulihkan.  Ratu Batang berhasil menginisiasi rekonsiliasi putra mahkota dengan lawan-lawan politiknya. Putra mahkota balik ke posisinya, tanpa ada kegaduhan. Semua berkat kepiawaian sang ibunda. Ratu Batang menunjukkan kelasnya sebagai politikus berpengaruh di balik layar.(yog/rg/bersambung)