Kalau ada pemberontak yang dicintai rakyatnya adalah Ronggolawe. Meski dirinya melakukan tindakan makar. Rakyat  tetap  menghormati Ronggolawe. Rakyat tahu. Langkah melawan raja merupakan langkah yang semestinya harus dilakukan oleh Ronggolawe.

Rakyat memahami. Ronggolawe berani berseberangan dengan raja. Dirinya menuntut hak yang seharusnya diterima. Raja telah memperlakukan tidak adil pada Ronggolawe. Wajar bila Ronggolawe asertif pada raja. Motivasinya adalah menuntut keadilan.

Alkisah. Ronggolawe sendiri bukan berasal dari golongan bangsawan. Ronggolawe memiliki ayah punggawa kerajaan Kediri. Namanya Arya Wiraraja. Ayahnya bukan berasal dari keluarga ningrat. Rakyat biasa. Tetapi Arya Wiraraja memiliki kedudukan penting di kerajaan. Orang kepercayaan  raja. Karena dipercaya oleh raja. Arya Wiraraja memiliki peran sangat strategis. Kedudukan Arya Wiraraja adalah penasehat raja. Posisi berikutnya Arya Wiraraja diberi amanah menjadi  bupati Sumenep.

Jalan pembuka Ronggolawe mengabdi di Kediri berkah dari pengaruh ayahnya sebagai pembesar kerajaan. Tugas Ronggolawe yang monumental membuka hutan yang difungsikan sebagai arena berburu  Jaya Katwang. Raja Kediri waktu itu. Proyek penting dari Ronggolawe tidak dibebankan sendiri padanya. Ronggowe diminta untuk membantu Raden Wijaya sebagai pimpinan proyek.

Gayung bersambut. Dua abdi dalem  memiliki energi besar. Cita-cita besar. Visi jauh ke depan. Ada obsesi melambung dibalik aktifitasnya menjalankan proyek membuka hutan. Ronggolawe dengan ikhlas hati membantu Raden Wijaya mewujudkan mimpi.

Dua prajurit memiliki niat melakukan operasi intelejen. Langkahnya diam-diam. Berbahaya. Mengandung resiko. Seandainya Jaya Katwang tahu. Kedua prajurit ini akan dihukum mati.

Raden Wijaya dan Ronggolawe berencana menggulingkan Kediri. Ingin mendirikan kerajaan sendiri. Strategi dimainkan agar rencana bisa terwujud. Ronggolawe yang menjadi motor penggerak merealisasikan makar.

Secara kebetulan. Ada pasukan Tar-Tar datang ke Jawa. Ronggolawe melakukan negosiasi. Ronggolawe menggunakan pasukan Tar-Tar menyerang kerajaan. Pada saat yang tepat. Kediri dalam keadaan lemah. Situasi ini dimanfaatkan Ronggolawe memberi komando pada pasukan Tar-Tar  menghabisi pasukan Kediri. Kerajaan Kediri jatuh.

Setelah pasukan Tar-Tar memenangkan peperangan. Bisa saja menganggu rencana membangun dinasti baru. Ronggolawe memimpin pengusiran pasukan Tar-Tar dari Jawa. Ronggolawe berhasil mengalahkan pasukan Tar-Tar. Pasukan Tar-Tar meninggalkan tanah Jawa.

Rencana berjalan mulus. Raden Wijaya berhasil mendirikan kerajaan Majapahit. Ronggolawe senang. Sukses membantu Raden Wijaya menjadi raja Majapahit. Kesukesannya naik tahta. Berkah dari mewujudkan mimpi yang diperjuangkan secara bersama. Antara Raden Wijaya dan Ronggolawe.

Sakit dirasakan bersama. Penderitaan ditanggung bersama. Berdarah-darah mengalir bersama. Setelah melewati segala rintangan. Ronggolawe berharap. Ingin membangun kerajaan pun bersama. Ronggolawe tetap ingin setia pada Raden Wijaya.

Agar ikatan kebersamaan membangun Kerajaan Majapahit semakin kuat, Ronggolawe ingin menjadi patih. Diluar dugaan. Setelah menjadi raja Majapahit. Raden Wijaya melupakan Ronggolawe. Raden Wijaya mengangkat Nambi sebagai patih.

Kebijakan Raden Wijaya membakar kemarahan Ronggolawe. Mengangkat Nambi menjadi patih bukan langkah bijak. Nambi tak pernah punya jasa. Nambi tak memberi kontribusi bagi berdirinya Majapahit. Orang yang tak berprestasi justru memperoleh jabatan penting di Majapahit.

Ketidaksukaan pada keputusan Raden Wijaya mendorong Ronggolawe menyingkir. Dirinya lebih memilih berada di Tuban. Protes Ronggolawe ditunjukkan dengan membuat pasukan. Ronggolawe berniat melakukan penyerangan. Sebelum melakukan penyerangan. Terlebih dahulu pasukan Majapahit menyerbu Tuban. Ronggolawe gugur.

Meski gugur sebagai pemberontak. Ronggolawe tetap berkibar. Nama besar Ronggolawe terus bergaung.  Buah dari rekam jejaknya.  Memperjuangkan keadilan.

Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan