PURWOREJO – Tikus-tikus di Kabupaten Purworejo terindikasi membawa penyakit leptospiosis. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan pola hidup bersih.

“Mei Senin tiga kecamatan dilakukan pengecekan dan penelitian terhadap tikus di Kemiri, Pituruh, dan Purwodadi. Hasilnya tikus di Purworejo positif membawa bakteri leptospira,” kata Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Purworejo dr Darus Senin (24/6).

Pernyataan itu disampaikan Darus di sela kegiatan rapat koordinasi penanggulangan penyakit menular yang diadakan Bagian Kesra di Pendapa Rumah Dinas. Kegiatan dibuka Asisten I Setda Purworejo Gentong Sumharjono, sementara Darus menjadi pemateri bersama Kepala Dinas Kesehatan dr Sudarmi.

Lebih jauh Darus mengungkapkan, persebaran tikus yang terjangkit bakteri leptospira tidak hanya di wilayah tertentu. Semua hal bisa dijangkau tikus, mulai dari persawahan hingga dalam rumah maupun perkantoran.

“Penyeberan bakteri ini melalui air kencing maupun air liur tikus. Katakan di saluran air, kalau tikus itu kencing di situ otomatis akan menjangkiti di saluran yang ada. Akan sangat berbahaya jika ada orang yang sedang luka memanfaatkan air itu,”  tambah Darus.

Tidak hanya itu,  di dalam rumah sebaiknya makanan ditutup rapat dan dipastikan tidak terkena tikus. Jika makanan itu terkena tikus juga cukup berbahaya, karena bisa menjadi pemicu penyakit leptospiroris. “Alangkah baiknya berusaha hidup bersih dan memastikan tidak ada tikus di sekitar kita,” tandasnya.

Diungkapkan, orang yang terkena leptospiroris memang tidak akan langsung terasa. Ada proses beberapa waktu hingga terjangkitnya penyakit itu.

Selain leptospirosis, setidaknya ada empat jenis penyakit menular lain yang menjadi perhatian Pemkab Purworejo. Yakni malaria, demam berdarah, TBC, dan HIV/AIDS. Khusus untuk penyakit malaria memang sudah menunjukkan tren menarik, di mana sudah delapan bulan terakhir tidak ditemukan adanya kasus.

Kepala Dinas Kesehatan dr Sudarmi mengungkapkan, penanggulangan penyakit akan berjalan maksimal jika ada peran serta dari PKK. Dia melihat keberadaan seorang wanita dalam keluarga akan membuat keluarga itu kuat. “Seorang ibu itu mampu menjadi ayah. Namun tidak semua ayah mampu menjadi seorang ibu,” kata Sudarmi.

Sementara itu Gentong Sumharjono yang mewakili Bupati Agus Bastian mengatakan, PKK memang memiliki luar biasa untuk memberikan pengaruh di masyarakat. Tidak hanya di bidang kesehatan, mereka juga diharapkan bisa terlibat banyak hal di lingkungan desa.

Kepala Bagian Kesra Fatkhurochman mengungkapkan, kegiatan penanggulangan penyakit menular diikuti 500 peserta. Mereka merupakan ketua TPP PKK tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten. Juga ada petugas dari puskemas. (udi/laz/er)