SLEMAN – Memasuki musim kemarau, petani beralih tanam ke komoditi yang tidak membutuhkan banyak air. Salah satunya, tembakau. Kemarau tahun ini diprediksi cukup baik untuk menanam tembakau. Namun, jumlah petani tembakau di Sleman semakin berkurang.

Sejak beberapa tahun lalu, petani tembakau Sleman merugi akibat kemarau basah. Akhirnya berdampak pada harga jual tembakau. Kondisi tersebut membuat banyak petani enggan menanam tembakau.

“Di Kalasan, jumlah petani yang menanam tembakau mengalami penurunan dari tahun ke tahun,” kata petani tembakau, Wawan Senin.

Penurunan tersebut, kata dia, karena beberapa tahun ini petani mengalami gagal panen. Hasil panen pun juga tidak terlalu bagus. Ada ketakutan petani menanam tembakau.

“Ditambah harga jual yang rendah. Grade A harganya sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram,” ugkap Wawan.

Dikatakan, saat ini dia menanam tembakau di lahan seluas empat hektare. Lahan tersebut sudah digarap turun temurun.

“Biasanya satu hektare bisa menghasilkan enam hingga sembilan kuintal tembakau kering. Itu kalau musimnya bagus,” kata Wawan.

Pada musim tanam tahun ini, biasanya para petani tembakau mulai menanam pada kisaran bulan Mei atau awal Juni. Hanya saja karena bersamaan dengan Lebaran, musim tanam sedikit mundur. “Ini baru mulai tanam, biasanya 70-80 hari sudah siap untuk petik pertama,” jelas Wawan.

Persoalan saat menanam tembakau, kata dia, adalah cuaca. Sebab, jika ada hujan, maka kualitas tembakau bisa turun.

“Apalagi saat pengeringan. Hari pertama saat mengeringkan tembakau mendung, sudah berpengaruh terhadap kualitas tembakau. Soal hama, menurut saya kok tidak terlalu masalah. Yang penting justru cuaca,” papar Wawan.

Petani tembakau di Kalasan, Tutik mengatakan, dia mencoba kembali menanam tembakau. Setelah tiga tahun tidak pernah menanam. “Karena cuaca bagus, walaupun tidak banyak yang saya tanam,” kata Tutik.

Selain jumlah petani yang turun, luas lahan tembakau juga semakin susut. Pada 2016, luas lahan tembakau sekitar 1.300 hektare. Lalu pada 2017 menjadi 650 hektare dan menyusut lagi pada 2018 sekitar 400 hektare.

Kabid Holtikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Edi Sri Harmanto mengatakan, target luas tanam tembakau tahun ini 477 hektare. Tidak jauh beda dengan sebelumnya. “Biasanya petani pada beralih ke komoditi cabai,” kata Edi.

Edi menyebut, petani tembakau biasanya orang-orang tertentu. Jika dari awal tidak konsisten menanam tembakau, para petani tidak mau mengambil risiko dan tidak ingin coba-coba.

“Jadi untuk mengembangkan petani tembakau sulit. Kalau tidak berpengalaman, mereka tidak berani menanam tembakau,” kata Edi.

Saat ini lahan tembakau di Sleman tersebar di Tempel, Cangkringan, Ngaglik, Ngemplak, Kalasan, dan Seyegan. Biasanya pada bulan Mei dan Juni ini sudah mulai masa tanam. Pihaknya tidak mematok target panen tembakau tahun ini.

“Pada dasarnya, kualitas tembakau Sleman itu baik. Bahkan sempat dipasok ke perusahan rokok besar juga,” kata Edi. (har/iwa/zl)