MEMEGANG prinsip ajur ajer dalam bertugas. Maksudnya melebur dengan masyarakat. Agar misi yang diusung bisa diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah kiat Ratna Ulfatul Fuadiyah sebagai penyuluh agama.

BUDI AGUNG, Purworejo

Statusnya bukan pegawai negeri sipil (PNS). Tingkat kesejahteraannya pun kian meningkat. Meskipun masih di bawah upah minimum kabupaten (UMK) Purworejo. Berapa pun nilainya Ratna tetap bersyukur. Yang penting tetap bisa amanah.

Tidak mudah menjadi penyuluh agama. Bahkan bisa dibilang berat. Mereka harus menghadapi banyak orang dengan berbagai karakter. Dengan misi menularkan kebaikan berbasis agama. Sekaligus mengedukasi masyarakat. Serta melestarikan kegiatan keagamaan semua kalangan.

Atas kiprah Ratna itulah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah (Kemenag Jateng) menaruh kepercayaan penuh pada perempuan kelahiran Malang, 20 Desember 1981, itu. Dia didapuk mewakili Jawa Tengah di ajang nasional lomba penyuluh agama non PNS.

Itu setelah Ratna mampu mengungguli kandidat lain dalam seleksi di Surakarta pada Rabu (19/6) hingga Jumat (21/6) lalu. Dia berhasil menjadi yang terbaik. Sekaligus mendongrak prestasi yang diraihnya tahun lalu. Kala itu Ratna menempati peringkat ketiga.

Ratna mulai menggeluti profesi sebagai penyuluh agama non PNS sejak 2015. Namun jauh sebelum itu dia sudah sering berinteraksi dengan masyarakat. Lewat berbagai kegiatan di sekitar tempat tinggalnya di Perumahan Pepabri, Borokulon, Banyuurip, Purworejo. Sejak 2007.

Bermula dengan mengumpulkan anak-anak untuk diajak mengaji bersama. Bukan hanya mengenal dan membaca kitab suci. Tapi juga memahami arti dan maknanya. Agar saat mereka dewasa bisa menerapkan ilmu-ilmu yang ada di Alquran sebagai bekal hidup.

Yang dilakukan Ratna selanjutnya bahkan melebihi ketugasannya sebagai penyuluh agama. Setidaknya ada dua hal konkret yang terus dia perjuangkan. Salah satunya mengubah paradigma warga Purworejo tentang bank plecit. Hingga lambat laun warga terbebas dari jerat utang dengan bunga tinggi itu. Bank plecit diubah menjadi infak produktif. Ini diterapkan dalam majelis taklim binaannya.

Setiap anggota diimbau menyisihkan rezeki Rp 5 ribu per bulan. Dana yang terkumpul lantas ditawarkan kepada anggota majelis yang membutuhkan untuk pinjam. “Di sini tidak ada istilah bunga,” tegasnya.

Misalnya ada yang mau pinjam Rp 200 ribu, tempo pengembaliannya bisa sampai dua bulan. “Berapa pun atau model pengembaliannya seperti apa kami fleksibel,” tambahnya.

Dari pengelolaan infak produktif, saat ini majelis taklim binaan Ratna mampu memberikan pinjaman di atas Rp 1 juta.

Ratna juga menerapkan program budidaya tanaman sehat keluarga. Program ini ternyata disambut antusias para tetangga. Selain bermanfaat bagi lingkungan, budidaya tanaman hijau bisa menjadi sarana penyaluran hobi kalangan ibu-ibu perumahan.

“Warga menilai kegiatan ini tepat sasaran dan banyak manfaatnya,” ungkap Ratna.

Nah, kembali pada ajang lomba penyuluh agama non PNS tingkat nasional di Jakarta pada Agustus mendatang, Ratna mengaku belum seratus persen persiapannya. Masih ada beberapa yang harus diproduksi. Salah satunya pembuatan video tentang kiprahnya sebagai penyuluh agama. Video itu harus diunggah di Youtube dan mendapat respons dari warganet.(yog/fja)