SLEMAN – Memasuki musim kemarau, jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sleman justru naik. Terhitung sampai Juni 2019, jumlah kasus DBD sejak Januari telah tercatat 531 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Sleman, Novi Krisnaini mengaku, meningkatnya jumlah kasus DBD dikarenakan Sleman memiliki siklus empat tahunan. Dan di tahun 2019 diprediksi akan mengalami jumlah yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2018, kasus DBD hanya tercatat 144 yang tersebar di seluruh Sleman. Sedangkan tahun 2019 yang baru mencapai pertengahan tahun, kasus terbanyak berada di Kecamatan Depok sebanyak 92 kasus. Disusul Gamping 86 kasus, Mlati 71 kasus, dan Godean 49 kasus.

“Persebaran kasus DBD merata. Yang paling rendah Ngaglik, hanya 40 kasus,” jelas Novi Jumat (21/6).

Menurut Novi, peningkatan kasus DBD di Depok diakibatkan banyaknya mahasiswa yang tinggal di kos. Dengan lingkungan yang kurang diperhatikan. Selain itu, adanya rumah yang tidak ditinggali. Membuat nyamuk berkembang biak dan menyebar ke lingkungan sekitar.

Nyamuk tidak hanya berkembang di genangan air saja. Bisa saja, jentik nyamuk masih akan terus berkembang biak di dalam rumah dimana ada air yang menggenang. Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, mengubur sampah, dan melakukan pengecekan kamar mandi.

“Untuk memastikan tidak ada jentik dan mengurangi kasus DBD,” kata Novi.

Selain kasus DBD yang banyak ditemukan saat kemarau, masyarakat harus berhati-hati terhadap paparan debu. Terlebih dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Jika terkontaminasi dan dikonsumsi tubuh, dikhawatirkan masyarakat mudah mengalami diare. Debu yang berlebihan berakibat pada gangguan saluran pernapasan dan timbul infeksi.

“Batuk, pilek, demam dan penyakit mata bisa menyerang siapa saja saat kemarau,” ingat Novi.

Masyarakat harus memperhatikan kebugaran fisik dengan mengonsumsi makanan seimbang yang kaya vitamin dan gizi. Mengonsumsi air mineral untuk mencegah terjadinya dehidrasi. (cr7/iwa/by)