KEKUASAAN Sultan Agung Hanyakrakusuma berlangsung dari 1613-1646. Selama lebih 32 tahun berkuasa, raja keempat Mataram itu meraih sukses gemilang. Kewibawaan Mataram sebagai negari besar diakui negara-negara tetangga. Jumlah negara taklukan terus bertambah.

Meski ke luar mencatat berbagai keberhasilan, Sultan Agung menghadapi persoalan internal menyangkut suksesi. Ini persis yang dihadapi dua pendahulunya. Kakeknya, Panembahan Senopati, dan ayahandanya, Panembahan Hanyakrawati.

Masalah selalu sama dan cenderung terulang. Raja yang bertakhta selalu bimbang dan berubah pikiran saat menetapkan garwa padmi  atau istri utama yang putranya berhak menjadi pewaris takhta.

Sejak Senopati, raja Mataram selalu mengangkat dua garwa padmi  atau permaisuri. Yakni Ratu Kulon dan Ratu Wetan. Untuk garwa ampeyan atau priyantun dalem alias selir tidak perlu dihitung. Raja Mataram biasa punya banyak garwa ampeyan. Di awal-awal Mataram berdiri, anak dari selir tak punya hak menjadi calon putra mahkota.

Secara adat maupun protokoler, Ratu Kulon adalah istri utama. Kedudukannya mengalahkan Ratu Wetan. Demikian pula anak laki-laki dari Ratu Kulon. Lebih mendapatkan prioritas dibandingkan anak dari Ratu Wetan. Itu teori yang berlaku di atas kertas.

Namun realita yang terjadi justru kebalikan. Sejak suksesi Senopati ke Hanyakrawati, berlanjut Hanyakrawati ke Sultan Agung dan Amangkurat I menggantikan Sultan Agung, kenyataannya berbicara lain. Kedudukan Ratu Kulon sering kali tergeser oleh Ratu Wetan. Begitu pula anaknya. Begitu ibundanya tergeser, sang anak yang mulanya menjadi kandidat ikut tergusur.

Ada dua alasan yang menjadi latar belakang pergeseran kedudukan permaisuri. Pertama, raja yang bertakhta beralasan mendapatkan wangsit. Dawuh (perintah) dari Gusti Allah melalui para leluhurnya. Kedua, karena asal usul darah atau trah permaisuri.

Ambil contoh saat Senopati memutuskan mengangkat Raden Mas (RM) Jolang sebagai pewaris takhta. Keputusan diambil di detik-detik akhir menjelang Senopati wafat.

Senopati mengaku mendapatkan wangsit. Jolang lah nantinya yang akan menjadi raja yang membawa kebesaran Mataram. Selain itu, ibunda Jolang, Raden Ayu (RAy) Waskitajawi atau Ratu Mas merupakan keturunan Ki Penjawi dari Pati.

Trah Penjawi dinilai lebih unggul dibandingkan Trah Madiun, asal usul Retno Dumilah, permaisuri Senopati lainnya. Semula kedudukan Retno Dumilah merupakan Ratu Kulon. Tergesernya Retno Dumilah menjadikan peluang anaknya, Pangeran Pringgalaya, ikut tergusur. Senopati bertakhta selama 14 tahun dari 1587-1601.

Sejarah kembali terulang di masa Jolang berkuasa. Raja dengan gelar Panembahan Hanyakrawati ini bertakhta dari 1601-1613. Dia terlihat gamang menentukan calon pengganti. Kedudukan Ratu Lungayu dari Panaraga tiba-tiba digeser oleh Ratu Hadi, putri Pangeran Benawa dari Kasultanan Pajang.

Nasib anak Lungayu, RM Wuryah, lebih tragis. Naik takhta menjadi raja Mataram hanya selama sehari. Kemudian didiskualifikasi. Wuryah yang bergelar Adipati Martapura harus lengser. Anak Ratu Hadi, RM Rangsang jumeneng ratu. Rangsang adalah nama muda Sultan Agung.

Dari sisi bobot, bibit, bebet, keturunan Pajang jelas lebih tinggi dari Panaraga. Penguasa Mataram agaknya perlu legitimasi semacam ini. Sebab dari asal usulnya  penguasa Mataram adalah keturunan petani dari Sela, Grobogan.

Karena itu, raja yang hendak bertakhta harus punya keunggulan. Trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih. Keunggulan terkait silsilah dan asal usul. Seorang raja yang diangkat mesti dari keturunan ningrat atau bangsawan, pertapa atau alim ulama, berwawasan agama, dan berasal dari keturunan pilihan utama.

Pertimbangan inilah yang dipakai Sultan Agung saat memilih RM Sayidin menjadi penerus takhtanya. Ratu Batang, ibunda Sayidin, masih trah Ki Juru Mertani. Di masa lalu Juru Mertani adalah penasihat politik Mataram era Senopati. Namanya cukup kesohor dan dihormati.

Ratu Batang mulanya berkedudukan sebagai Ratu Wetan. Sedangkan Ratu Kulon, merupakan putri Panembahan Cirebon. Dari perkawinan ini lahir RM Syahwawrat. Kedudukan Syahwawrat tergusur karena posisi ibunya lebih dulu tergeser. Sayidin kemudian naik takhta menjadi raja bergelar Susuhunan Amangkurat I. Trah Juru Mertani dinilai lebih unggul dibandingkan trah Cirebon.(yog/bersambung)