SLEMAN – Kecamatan Prambanan setiap kemarau selalu didera kekeringan. Terutama desa-desa di perbukitan. Akses air sangat sulit kendati sudah ada Organisasi Pengelola Air (OPA).

Desa Wukirharjo, Prambanan terletak di perbukitan. Tak luput dari ancaman kekeringan walaupun beberapa dusun dialiri jaringan OPA. Namun belum semua dusun terjangkau OPA.

“Apalagi kalau kemarau. Pasti banyak yang membutuhkan air. Sehingga untuk OPA, penggunaannya digilir,” kata Kades Wukirharjo, Turaji, Kamis (20/6).

Mengantisipasi kekeringan, pihaknya berencana menghidupkan kembali sumur bor. Terletak di depan Balai Desa Wukirharjo.

Selama ini, pihaknya mengandalkan suplai air dari OPA di Desa Sumberharjo. “Memang, nanti kalau OPA bermasalah, sumur bor ini menjadi cadangan,” kata Turaji.

Pada musim kemarau sebelumnya, daerah yang bermasalah dengan air bersih adalah Dusun Watukangsi. Letaknya di sisi utara pegunungan. Setidaknya ada 300 kepala keluarga (KK) di sana.

“Tapi, selama OPA lancer, air bersih tidak masalah. Tapi kan kebutuhannya bukan cuma untuk manusia, juga untuk ternak,” kata Turaji.

Sumur bor di Wukirharjo sudah ada sejak 2006. Lama tidak beroperasi karena rusak. Sumur bor berkedalaman 60 meter itu bisa digunakan untuk menyuplai 100 KK.

Debit airnya 1 liter per detik. “Memang kecil, tapi kami berharap bisa untuk mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat,” ungkap Turaji.

Salah seorang pengurus Organisasi Pengelolaan Air (OPA) Prambanan, Murjiyanto mengatakan, persoalan kekurangan air bersih bisa teratasi dengan OPA. Namun belum semua masyarakat langganan OPA.

Persoalan lain, terkait gravitasi untuk mengalirkan air. Jarak antarrumah berjauhan. Dibutuhkan banyak pipa untuk mengalirkan air ke rumah warga.

“Ada juga warga enggan ditawari berlangganan OPA. Alasannya, sumur masih ada air,” kata Murjiyanto.

Padahal, debit air OPA di Desa Bokoharjo bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. Sehingga tidak perlu ada droping air. (har/iwa/fj)