SLEMAN – Zonasi sekolah tingkat SMP tahun ini memprioritaskan jarak. Nilai akademis merupakan syarat kesekian. Sistem tersebut berpengaruh pada sekolah di daerah pinggiran. Salah satunya, SMPN 4 Prambanan. Sekolah yang berada di sebelah Tebing Breksi.

Kepala SMPN 4 Prambanan, Sudaryanto mengatakan, setiap tahun sekolahnya selalu kekurangan siswa. Padahal daya tampung siswa kelas 7 hanya sebanyak 64 siswa.

Faktor geografis, kata dia, menjadi alasan orang tua menyekolahkan anaknya di sana. Letak sekolah di puncak gunung dengan jalan menanjak.

“Dulu ada siswa yang mengundurkan diri. Karena lokasi sekolah di pegunungan,” kenang Sudaryanto.

Dikatakan, tahun ini pihaknya realistis. Masih ada harapan kuota 64 siswa terpenuhi. Harapannya muncul karena sistem zonasi.

“Tahun lalu, lebih jauh jangkauannya (zonasi) karena pakai korwil. Bagi kami, secara jumlah siswa lebih menguntungkan zonasi tahun ini,” kata pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris.

Zonasi juga menguntungkan SMPN 4 Prambanan dalam pemerataan pendidikan. Secara fasilitas, sama untuk semua sekolah negeri. “Buku yang digunakan juga sama,” katanya.

Dia sadar, menghilangkan stigma sekolah favorit sulit. Sudaryanto tidak muluk-muluk dengan target siswa. Bagaimanapun orang tua siswa ingin menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik.

‘’Saya melihat yang diinginkan pemerintah bukan kompetisi, tapi kolaborasi. Sehingga bersama-sama berjuang memperbaiki sekolah masing-masing,” ucapnya.

Semangat pemerataan pendidikan penting. Egoisme orangtua harus diredam. Masyarakat di pinggiran harus bisa mengecap pendidikan yang layak.

“Saya yakin, mau di pinggiran atau tidak, kalau sudah pintar, akan tetap pintar. Ke depan saya melihat siswa yang pintar mengajari yang belum pintar,” jelasnya.

Prinsip pendidikan, kata Sudaryanto, bukan semakin mencerdaskan yang sudah cerdas. Dan mengumpulkan mereka di satu tempat.

“Ini untuk pemerataan pendidikan. Memang zonasi ini barang baru. Wajar jika banyak muncul pertanyaan,” kata Sudaryanto. (har/iwa/fj)