JOGJA – Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) mengadakan simulasi untuk para atlet Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di Kompleks Stadion Mandala Krida, Kamis (20/6). Selain 12 atlet Pelatnas, simulasi ini juga diikuti atlet-atlet daerah. “Biar sekalian, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui,” jelas pelatih Pelatnas Panjat Tebing Hendra Basir.

Setidaknya ada 60 atlet dari berbagai daerah mengikuti ajang ini. Mereka berasal dari Pulau Jawa, Bali, Bengkulu, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan lain-lain. Mereka berlaga di tiga nomor pertandingan, yakni lead, boulder, dan speed.

Menurut Hendra, simulasi pelatnas ini menjadi bagian dari program latihan kami mempersiapkan tim mengikuti seri kompetisi di berbagai kategori. Hal ini sebagai syarat untuk mendapatkan tiket untuk bertanding di kualifikasi olimpiade yang kedua. Hendra menjelaskan, ajang semacam ini terhitung jarang diselenggarakan, terutama untuk combine menjelang pemanasan pra-PON. “Jadi kami mengundang dari daerah-daerah silakan datang ke sini,” jelasnya.

Sedangkan untuk para atlet pelatnas, simulasi ini diadakan untuk menyongsong International Federation of Sport Climbing (IFSC) Climbing Worldcup pada 4-6 Juli di Villars, Swiss di nomor speed dan lead. Seminggu berikutnya, mereka akan mengikuti seri berikutnya, 11-13 Juli di Chamonix, Perancis. “Kami mau amankan tiketnya di nomor ganda speed. Kami sudah di 20 besar dari tiga seri yang kami ikuti. Kalau bisa ditingkatkan peringkatnya. Targetnya 16 besar,” ungkapnya.

Tetapi, target itu bisa saja terlampauai. Sebab, sebelumnya atlet-atlet Indonesia di Chongqing, China meraih juara. Di Moskow, Rusia mendapat perunggu. Di Wujiang, China mendapatkan perak. Saat ini atlet panjat tebing di Indonesia unggul di speed. Yang menjadi perhatian adalah kombinasi dari tiga kategori speed, boulder, dan lead. Kelemahan atlet Indonesia di boulder dan lead. Itu yang diakselerasikan.ā€¯Tujuannya ada dua, mempertahankan keunggulan dan mengejar ketertinggalan,” jelasnya. (cr10/din/fj)