JOGJA – Berbagai kalangan terus memberi masukan setelah pelaksanaan uji coba semipedestrian di Malioboro selasa lalu (18/6). Termasuk Wali Kota Jogja periode 2001-2022 Herry Zudianto, yang mengusulkan pedestrian Malioboro hanya dilaksanakan tiap malam hari.

“Idealnya (pedestrian) malam hari, kalau siang panas sekali. Tidak mungkin siang-siang jalan (di Malioboro) karena tidak ada perindang,” ujar HZ Kamis (20/6). HZ menilai pedestrian siang hari tidak cocok di Indonesia, yang saat siang hari cuacanya panas. “Kalau ditanami perindang di tengah jalan kan yo menyalahi sumbu filosofis,” tambahnya.

HZ menilai saat siang hari yang panas, wisatawan maupun warga juga tidak akan mau lewat tengah jalan Malioboro. Kondisi tengah jalan Malioboro pun akan jadi kosong melompong. “Padahal jalan lain jadi crowded, sedang Malioboro lengang,” tuturnya.

Ketua RW 02 Golo itu juga menilai saat pedestrian diterapkan malam hari, wisatawan tidak akan keberatan jalan jauh dari lokasi parkir. Karena tidak kepanasan. Saat pedestrian malam hari, siangnya Malioboro bisa untuk aktivitas seperti biasa. Termasuk toko yang akan nge-drop barang.

“Pedestrian siang hari susah menjadi daya tarik karena tidak mungkin nyaman jalan-jalan di tengah jalan Malioboro,” tuturnya. “Kalau malam hari oke banget, apalagi berbagai atraksi seni ada di tengah jalan dan PKL yang membelakangi toko juga digeser ke tengah jalan sehingga lorong toko juga lebih nyaman,” tambahnya.

Untuk menambah daya tarik wisata, saat pelaksanaan pedestrian malam hari di Malioboro juga digelar panggung kesenian. Dia juga mengusulkan ada kereta wisata untuk angkutan wisatawan. “Tapi pakai listrik, jangan BBM,” pesannya.

Masukkan yang sama juga disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY) Sadana Mulyono. Dia menyarankan penerapan pedestrian bisa diterapkan setiap sore hari mulai pukul 16.00 sampai 21.00. “Dicoba dari sore jangan satu hari full karena akan merugikan kami. Biasanya siang justru ramai malah tidak ada pengunjung karena penutupan akses,” sarannya.

Menurut dia, saat penerapan uji coba Kamis, sekitar 220 toko di Malioboro terdampak dengan menurunnya omzet. Jumlahnya bahkan turun hingga 50 persen akibat penerapan semi pedestrian Malioboro. “Toko-toko anggota kami rata rata mati semua, omzet turun 50 persen selasa Kamis. Padahal kalau setiap hari biasa kami bisa naik sekitar 30 persen,” ungkpanya.

Sadana menyebut sebagian yang terlihat ramai hanya toko yang menjual makanan. Itu karena semua PKL bersamaan juga libur pada hari itu, “Ya mereka mau makan kemana kalau angkringan-angkringan semua pedagang saja juga tutup,” tuturnya.

Selain itu, tambah dia, masyarakat justru tidak berniat untuk berbelanja melainkan hanya menyaksikan suasana Malioboro ketika tidak ada kendaraan melintas disana. “Mereka saja hanya duduk-duduk menyaksikan Malioboro dan foto-foto saja. Tapi nggak ada niatan berbelanja,” tuturnya.

Dia meyakini jika penerapan semi pedestrian Malioboro dengan model seperti itu akan menyebabkan jajaran toko di Malioboro menjadi sepi dan tidak menguntungkan pengusaha. Sehingga berdampak mematikan pendapatan para pelaku usaha tersebut, dikarenakan dipersulitnya pengunjung dengan akses masuk ke Malioboro. “Ya kukut semua pasti toko-toko kalau seperti itu terus, akibatnya ya PHK pasti,” tegasnya.

Di luar teknis uji coba, sebagai pemilik toko di Malioboro, keduanya juga menyoroti terkait sosialisasi kepada pemilik toko. HZ mengaku dari grup WhatsApp pemilik toko di Malioboro, yang diikutinya, banyak yang mengeluh kurangnya sosialisasi. “Ya baiknya semua diajak rembugan dulu,” sarannya. (cr15/pra/er)