BANTUL – Festival Pisang kembali digelar. Festival yang telah memasuki tahun kedua ini bertujuan untuk memopulerkan pisang lokal. Agar petani tidak hanya mengandalkan produk pertanian sebagai sumber pendapatan.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan (Disperpautkan) Bantul Pulung Haryadi menegaskan, peluang pisang menjanjikan. Pisang bisa diolah menjadi berbagai produk penganan. Sebut saja pisang goreng, keripik, hingga kopi.

”Tanaman pisang bisa menciptakan diversifikasi pendapatan selain hasil dari sawah,” jelas Pulung di sela Festival Pisang di kompleks Perkantoran Pemkab Manding Kamis (20/6).

Festival dibuka Bupati Bantul Suharsono. Ada 51 tandan berbagai jenis pisang yang dipamerkan. Di antaranya, pisang kepok kuning, raja, dan ambon. Pulung meyakini, jumlah dan jenis pisang yang dipamerkan tahun depan bisa bertambah. Sebab, ada pekarangan rumah seluas 10 ribu hektare di Bumi Projotamansari yang berpotensi ditanami pisang.

”Jika dimanfaatkan bisa mendongkrak perekonomian warga,” ucapnya.

Melalui festival ini, Pulung ingin terus mendorong para petani memanfaatkan pekarangan rumah. Juga untuk menekan harga pisang di pasaran agar tetap stabil.

”Hidangan meja identik dengan pisang. Pisang jadi kebutuhan pangan penunjang,” tuturnya.

Menurutnya, penyelenggaraan festival juga sebagai tindak lanjut pembentukan Asosiasi Petani Pisang Bantul.

Di tempat yang sama, Bupati Bantul Suharsono mengatakan, Kabupaten Bantul memiliki potensi tanah yang berbeda-beda. Ada yang bisa ditanami padi dan palawija. Ada pula yang cocok ditanami pisang. Karena itu, Suharsono meminta petani mengembangkan potensi di wilayahnya masing-masing.

”Kabupaten Bantul juga punya pisang unggulan yang sudah punya lisensi dan diakui nasional. Namanya Berlin (akronim kober lan eling, Red),” katanya.

Rencananya, lanjut Suharsono, pemkab bakal mendorong pengembangan pisang Berlin. Tanpa dengan menggunakan pestisida.

”Dikembangkan dengan sistem organik. Nilainya akan tinggi,” lanjutnya.

Supriyanto, penyuluh pertanian Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Banguntapan menambahkan, pisang kepok kuning, raja dan ambon memiliki nilai jual tinggi. Harganya bisa mencapai Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu setandan.

”Paling rendah Rp 250 ribu,” sebutnya. (cr6/zam/zl)