SETELAH menempati ibu kota baru, Sultan Agung kerap tampil ke publik. Dari utusan Belanda pada 1622, 1623, dan 1624 yang mengunjungi Mataram memberikan gambaran tentang Istana Kerta.

Kesan pertama yang diperoleh orang Eropa terhadap Sultan Agung bahwa dia tidak dapat dianggap remeh. “Wajahnya kejam. Kaisar dengan dewan penasihatnya memerintah dengan keras sebagaimana sebuah negara besar,” demikian kesaksian pengusaha Balthasar van Eyndhoven yang pernah berkunjung ke Mataram.

Sedangkan Dr H de Haen menyebut Sultan Agung seorang yang berada di puncak kehidupannya. Usianya antara 20-30 tahun. Berbadan bagus. Sedikit lebih hitam dari rata-rata orang Jawa. Hidung kecil dan tidak pesek. Mulut datar serta agak besar, kasar dalam bahasa dan lamban bila  berbicara. Berwajah tenang, bulat, dan tampaknya cerdas. Memandang sekelilingnya seperti singa.

Sultan Agung berkopiah dari kain linen di kepala. Kopiah tersebut dipastikan kuluk putih. Pakaian kain batik berwarna putih biru. Keris di badan bagian depan dan sabuk dari emas. Jari-jarinya terlihat cincin intan gemerlapan.

Sifat Sultan Agung rupanya menarik perhatian utusan Belanda. Sultan Agung digambarkan punya sifat ingin tahu. Tegas dan haus dengan pengetahuan. Sultan Agung pertama-tama bertanya soal peta dunia agar bisa mengetahui letak Negeri Belanda, Inggris, dan Spanyol.

Dia bertanya nama-nama gubernur jenderal Belanda. Sultan Agung mengomentari aksara Belanda. Menurut dia, butuh waktu tiga tahun bagi dirinya belajar membaca dan mengerti bahasa Belanda.

Gambaran seputar Keraton Kerta diperoleh dari kunjungan utusan Belanda Jan Vos. Dia mengunjungi Kerta pada 9 September 1624. Dia melihat alun-alun yang dikelilingi pagar kayu disusun dalam bentuk wajik. Di alun-alun dia diterima Tumenggung Baureksa dan Tumenggung Tegal. Jan Vos kemudian diajak masuk istana bertemu raja.

Jan Vos diterima di Bangsal Kencana. Jan Vos duduk agak jauh dari Sultan Agung. Di belakang raja terlihat 10 orang laki-laki. Di sebelah kanan duduk kakak beradik Adipati Mandurareja dan Upa Santa. Keduanya adalah keturunan Ki Juru Mertani. Penasihat politik Panembahan Senopati, kakek Sultan Agung.

Utusan Belanda itu duduk di atas tanah tanpa alas bersama Tumenggung Baureksa dan Tumenggung Tegal. Selama pertemuan Jan Vos tak melihat seorang pun  wanita.   Dia sempat bertanya kepada Tumenggung Tegal kenapa tidak ada wanita di sekitar raja. Padahal selama ini raja selalu dilayani banyak wanita.

Tumenggung Tegal menjelaskan, waktu itu Jan Vos berada di tempat raja mengadakan pembicaraan yang bersifat sangat rahasia. Masalah penting diselesaikan di tempat itu sehingga tak ada pelayan-pelayan wanita.(yog/rg/bersambung)