Suksesi Sultan Agung Hanyakrakusuma menggantikan ayahnya, Panembahan Hanyakrawati, merupakan  bentuk suksesi yang menyimpang. Seharusnya takhta itu menjadi hak Raden Mas (RM) Wuryah atau Adipati Martapura.

Meski lebih  berhak, realita politik berkata lain. RM Rangsang, nama muda Sultan Agung,  berhasil menjadi pemenang dalam kemelut suksesi di Mataram. Kenaikan takhta raja Mataram tersebut  sejak awal tidak berjalan lancar.

Awal pemerintahan Sultan Agung menghadapi berbagai serangan kubu oposisi. Khususnya dari kubu Patih Mandaraka. Penasihat politik Mataram sejak era Senopati itu sedari awal tidak berada di kubu Rangsang. Ki Juru Mertani, sebutan lain dari Mandaraka, lebih berpihak ke Wuryah. Mandaraka berpegang pada paugeran. Juga janji politik yang pernah diucapkan Hanyakrawati.

Sultan Agung menghadapi krisis legitimasi. Tidak semua elite kerajaan mendukungnya. Kubu Wuryah menuding ada rekayasa politik di balik putusan mahkamah keraton (MK) yang memenangkan Rangsang.

Ada skenario yang telah disiapkan. Aktor politik yang bermain disebut-sebut Pangeran Purbaya. Dia menjabat panglima perang Tentara Nasional Mataram (TNM). Purbaya juga ahli di bidang telik sandi.

Tokoh lain yang sering pasang badan untuk Sultan Agung adalah Tumenggung Singaranu. Dia juga punya jam terbang dalam operasi-operasi militer. Ketika menghadapi kubu Wuryah, Singaranu langsung tampil ke depan. Dia beberapa kali pindah jabatan. Sesuai kepentingan saat menghadapi lawan politik.

Tak heran Singaranu mendapat julukan pejabat serbabisa. Dia selalu berada di dekat Sultan Agung. Ke mana pun Sultan Agung pergi, di situ pasti ada Singaranu. Sebaliknya, Purbaya lebih banyak bermain di balik layar. Sesuai dengan latar belakangnya. Mantan pejabat telik sandi.

Kritik lain yang dilontarkan kubu Wuryah adalah dominasi pengaruh ibu suri alias Ratu Hadi di pemerintahan. Berbagai serangan itu membuat Sultan Agung kedodoran. Serangan oposisi agak berkurang setelah tahun ketiga.

Momentumnya usai Patih Mandaraka wafat. Sultan Agung tidak menunjuk Tumenggung Mandurareja, anak Mandaraka, sebagai pengganti. Namun jabatan pepatih dalem dipercayakan kepada Singaranu. Sang pejabat serbabisa.

Untuk memulihkan legitimasi di depan rakyat, Singaranu memerintahkan juru warta istana dan kantor berita Kerajaan Mataram membuat opini. Wuryah diberitakan tidak layak menjadi raja. Karena terganggu ingatannya. Itu antara lain termuat di Serat Nitik.

Sultan Agung juga meluncurkan proyek besar. Berupa agresi militer ke wilayah timur. Misalnya ke Wirasaba, Lasem, Pasuruan, Tuban, dan Surabaya. Selain itu, pada tahun kelima, Sultan Agung mulai memikirkan memindahkan istana. Dia perlu membangun ibu kota baru. Alasannya, Kotagede sudah cukup padat. Dia juga ingin mengikis bayang-bayang ayah dan kakeknya.

Dengan memindahkan ibu kota, Sultan Agung ingin membangun legitimasi yang utuh. Sekaligus mengalihkan perhatian agar masalah suksesi tak lagi dipersoalkan. Dia memilih Kerta sebagai calon ibu kota baru.  Pengganti Kotagede. Letaknya kurang lebih 5 km selatan ibu kota lama. Pemilihan Kerta sesuai survei Badan Perencanan Pembangunan Nasional Kerajaan Mataram. Lagi-lagi badan tersebut dikepalai Singaranu.

Sultan Agung bersama para pejabat Mataram beberapa kali meninjau ke Kerta. Pembangunan calon ibu kota dimulai 1618. Bersamaan dengan itu juga diadakan pengukuran tanah di Desa Pamutihan untuk kadipaten, kediaman putra mahkota. Tahun berikutnya, Sultan Agung mulai menempati Kerta.

Dalam Babad Sangkala ditulis Ingkang Sinuhun awit ngadaton ing Kerta. Namun Ibu Suri (Ratu Hadi) masih tetap tinggal di Kotagede. (Ibu Dalem taksih wonten ing Kuta Agung).  Meski demikian, keraton belum dapat dikatakan sempurna. Bangsal Prabayeka yang menjadi tempat tinggal Sultan Agung dibangun 1620.

Setahun kemudian Ibu Suri pindah ke Kerta. (Boyongipun Ibu Dalem dateng Kerta). Prosesi pindahnya ibukota berlangsung 1622 dengan ditandai pagelaran wayang kulit. Pembangunan kediaman putra mahkota baru selesai pada 1626. (Kanjeng Pangeran Arya Mataram pindah dateng Kerta).(yog/er)