JOGJA – Sampah plastik masih yang paling dominan dibuang oleh masyarakat maupun pengunjung di tempat wisata. Seperti di pusat Kota Jogja Malioboro maupun di Pantai Parangtritis, mayoritas sampah di sana adalah plastik.

Kepala Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) Pantai Parangtritis Suranto mengungkapkan, untuk sampah yang dihasilkan selama libur lebaran kemarin, didominasi bungkus makanan, botol plastik, kaleng biskuit serta sisa-sisa makanan pengunjung. Pihaknya mengumpulkan tak kurang dari 15 ton.

“Untuk sampah di Parangtritis dari H+1 sampai H+5 lebaran, setiap harinya sampah terkumpul lebih dari tiga ton. Jumlah ini meningkat tiga sampai empat kali lipat dari hari biasa,” ucap Suranto kemarin (11/6).

Nantinya, sampah-sampah yang dihasilkan selama liburan ini akan dikumpulkan terlebih dahulu. Kemudian akan dibuang ke tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Piyungan.

“Ketika pengunjung sudah mulai agak berkurang baru (sampah) kami evakuasi. Saat ini kami kumpulkan di tempat pembuangan sementara dahulu, kemungkinan minggu depan baru akan kami buang ke TPST Piyungan,” ujarnya.

Suratno menyebut, personel yang dikerahkan sebanyak 25 orang sedangkan untuk alat kebersihan diantara 30 alat penggaruk sampah, enam motor roda tiga, satu truk sampah, dan satu alat berat.

Dikonfirmasi terpisah Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Suyana  mengatakan, jika dibandingkan tahun lalu, relatif lebih kecil. Salah satu penyebabnya adalah pendeknya masa libur lebaran.

“Peningkatan justru tidak terasa signfikan, hanya 10 sampai 15 ton perharinya. Selain masa libur lebaran pendek mungkin kesadaran masyarakat sudah tinggi,” jelasnya.

Dominasi peningkatan sampah terjadi di kawasan wisata. Dia mencontohkan kawasan wisata Malioboro hingga Keraton Jogja. Setidaknya dalam satu hari, produksi sampah mencapai 12 ton. Kawasan tersebut didominasi oleh sampah plastik.

“Malioboro hingga Keraton sampahnya bisa sampai tiga rit, satu rit volumenya empat ton. Dominasi sampah plastic, kalau yang sampah rumah tangga tetap jenis sampah organik,” katanya.

Minimnya produksi sampah ditunjang dengan lancarnya sirkulasi ke TPST Piyungan. Tidak ada antrian menyebabkan truk pengangkut sampah optimal. Sehingga armada truk bisa beroperasi setiap waktu. DLH Kota Jogja juga mengoperasionalkan petugas kebersihan secara penuh.

Disamping itu jajarannya juga berkoordinasi dengan instansi lainnya. Dalam hal ini pasar di kewenangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja. Sementara untuk kawasan Malioboro sesuai kewenangan di UPT Malioboro.

“Petugas 360-an ditambah 42 unit truk dan dua unit mobil sweeper. Operasional penuh dan tidak libur selama lebaran. Kalau sirkulasi di (TPST) Piyungan sangat lancar, antrian tidak sampai berjam-jam,” ujar mantan Kepala Disperindagkoptan Kota Jogja itu.

Kepala UPT Malioboro Ekwanto mengungkapan volume sama meningkat sejak H-2. Guna menjaga kebersihan dia mengoperasikan tim ranjau sampah. Perannya menyisir sampah di kawasan Malioboro hingga kawasan Titik Nol Kilometer.

Untuk satu hari ada peningkatan hingga empat hingga enam truk. Sementara pada hari normal, produksi sampah mencapai tiga truk. Operasi bersih sampah berjalan sukses berkat peran komunitas Malioboro. Tidak hanya mengurangi tapi juga memungut sampah yang terlihat.

“Komunitas punya peran juga, selain bersih-bersih pagi hari juga mengawasi. Kalau ada pengunjung yang buang sampah sembarangan ditegur. Tim ranjau didukung dengan dua unit Tossa, jadi kalau ada sampah langsung angkut,” jelasnya.

Pantauan Radar Jogja tim ranjau sampah beroperasi dalam rentang waktu tertentu. Fokus utama adalah mengambil sampah di tempat pembuangan sampah. Selain itu tim juga menyisir kawasan pedestrian. Walau begitu, sampah khususnya jenis plastik masih kerap ditemui. (dwi/cr5/pra/by)