JOGJA – Untuk kelima kalinya, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Jogja kembali menyelenggarakan program pesantren bagi kaum duafa. Mereka berkumpul di Masjid Pangeran Diponegoro komplek Balai Kota Jogja, sejak sore hingga subuh keesokan harinya. Siang hari mereka tetap bekerja seperti biasa.

Masjid Pangeran Diponegoro Balai Kota Jogja selalu ramai dengan kegiatan kajian tiap jelang berbuka puasa. Pesertanya paling tidak ada 50 orang. Belum ditambah jika masyarakat sekitar atau pegawai di Balai Kota ikut serta.

Ya sebanyak 50 orang peserta tersebut adalah santri Pesantren Duafa. Mereka wajib mengikuti semua kegiatan karena mereka adalah peserta Pesantren Duafa. Menurut, Pelaksana Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Baznas Kota Jogja, Muhaimin kegiatan ini sebelumnya dikenal sebagai pesantren untuk pengemudi becak. Namun, dalam dua tahun terakhir diubah menjadi pesantren untuk kaum duafa.

“Tak lagi hanya pebecak, tapi juga cleaning service hingga kuli bangunan,” ujarnya kemarin (26/5).

Muhaimin mengaku selama lima tahun dilaksanakan, pesertanya selalu antusias. Pada Ramadan kali ini saja, warga yang berminat mengikuti kegiatan tersebut cukup banyak. Bahkan melebihi kuota yang ditetapkan.

“Ada 60 warga yang mendaftar padahal kuota yang kami sediakan hanya untuk 50 peserta. Kami pun harus menyeleksi dan mengutamakan pendaftar dari warga Kota Jogja,” katanya.

Dia menjelaskan, program ini akan dilakukan selama Ramadan. Semua kegiatan dilaksanakan di masjid Diponegoro Balai Kota Jogja. Kegiatan selama pesantren ramadan meliputi, kajian menjelang buka puasa, buka puasa bersama, kajian tarawih dan subuh, tadarus Alquran, sahur bersama dan mujahadah pagi. Seluruh peserta akan memperoleh berbagai fasilitas seperti sedekah santri, seragam dan perlengkapan ibadah, paket lebaran serta makanan untuk berbuka serta sahur bersama.

Santri yang mengikuti pesantren duafa juga masih diperkenankan mencari nafkah pada siang hari dan diwajibkan kembali mengikuti kegiatan sekitar pukul 16.00 WIB.  Saat mencari nafkah, para santri juga diwajibkan untuk tetap menjalankan salat lima waktu yang dibuktikan dengan tanda tangan dari takmir masjid tempat mereka menjalankan ibadah salat. Tapi para santri, terutama pebecak yang sudah sepuh, diperbolehkan tetap tinggal dan tidak bekerja di siang hari.

“Selepas subuh, mereka bisa menjalankan kegiatan sehari-hari mereka dan kembali lagi ke masjid saat sore hari untuk mengikuti kegiatan hingga subuh,” tambahnya.

Muhaimin menjelaskan, selama mengikuti pesantren, seluruh santri memperoleh fasilitas penginapan yaitu di Balai RK yang berada tidak jauh dari Masjid Diponegoro.

Selain kajian jelang buka puasa dan salat tarawih, berbagai kegiatan yang harus dijalani santri di antaranya adalah tadarus, pengajian dan salat berjamaah. “Untuk kebutuhan sahur dan buka sudah kami siapkan,” katanya.

Muhaimin menambahkan, pesantren Ramadan ini akan berakhir pada tanggal 01 Juni mendatang. “Setelah kegiatan pesantren ramadan berakhir kami akan memberikan paket Lebaran dan uang sebesar Rp 1 juta per orang,” paparnya.

Sementara itu Ketua Umum Takmir Masjid Pangeran Diponegoro Balai Kota Jogja Heroe Poerwadi menyebut Pesantren Duafa ini memang sengaja diperluas pesertanya. Tak hanya pebecak saja. Karena tujuannya untuk bisa mengangkat derajat kaum duafa di Kota Jogja. Di antaranya dengan memfasilitasi kemudahan melaksanakan ibadah di bulan Ramadan.

“Setiap tahun akan kami rangkul sebanyak mungkin kaum duafa di Kota Jogja, supaya mereka juga bisa beribadah dengan maksimal selama Ramadan,” ungkapnya.

Menurut Wakil Wali Kota Jogja itu, di akhir kegiatan Pesantren Ramadan para santri akan dibekali dengan bisharoh atau honor jika mereka bisa konsisten mengikuti Pesantren Ramadan hingga akhir kegiatan.

“Harapannya dari sisi ibadah dan aktivitas social ekonomi mereka tetap terpenuhi,” jelasnya.(**/cr8/pra/er)