JOGJA – Kurang memperhatikan cara penyimpanan uang, membuat kondisi uang cepat lusuh. Padahal uang lusuh, selain tampilannya yang tidak menarik, juga mengandung banyak kuman karena tidak bersih.

Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ

Sri Fitriani mengatakan, uang dengan kondisi yang lusuh selain tidak enak dipegang juga memiliki banyak kuman. Bahkan bisa menimbulkan penyait. Uang seperti itu seharusnya tidak lagi digunakan. “Secara perlahan, penyakit tersebut akan mengidap kepada penggunanya,” kata dia di sela peluncuran pasar bebas uang lusuh (Pakabul) di aula kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja di lantai 3 Pasar Beringharjo Rabu (22/5).

Dengan kondisi seperti ini, KPBI DIJ dalam programnya tersebut membuat kebijakan yaitu clean money policy. Uang yang dipergunakan masyarakat adalah uang yang tidak lusuh. “Uang yang tidak lusuh itu uang itu bersih, masih jelas nominalnya, warnanya, sehingga siapapun yang menerimanya juga lebih baik,” katanya. “Karena uang selain memiliki fungsi sebagai pembayaran tetapi juga sebagai fungsi penyimpanan kekayaan,” tambahnya.

Kepala KPBI DIJ Hilman Tisnawan menambahkan, biasanya uang lusuh ditemukan pada pecahan uang kecil, Rp 10.000, Rp 5.000 dan Rp 2.000. “Kalau untuk pecahan uang besar (Rp 20 ribu ke atas) tidak ada yang lusuh,” tuturnya.

Mantan Deputi Kepala KPBI DIJ itu menjelaskan, lusuhnya uang dikarenakan masyarakat belum mengerti cara memperlakukan uang. Dia mencontohkan, “Seperti di pedagang ikan kalau dia dapat uang baru takut terbang di masukin ke ember uangnya dan embernya terdapat air. Itu uang kalau basah maka ketahanan uangnya akan lemah.”

Hilman menyebut di Pasar Beringharjo saja, untuk sekali penukaran uang lusuh bisa mencapai Rp 300 juta. Untuk meminimalkannya. Pihaknya menggandeng perbankan untuk menjadi agen. Mekanismenya petugas bank mendatangi langsung atau pedagang yang mendatangi. Begitu mendapat uang lusuh akan ditukarkan dengan yang baru. Mereka juga bertugas melakukan edukasi memperlakukan uang. “Akan terus mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa uang itu tidak boleh dilipat, tidak boleh disteples , kalau bisa langsung masukkan ke dompet,” paparnya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan keberadaan uang bersih dipasar-pasar dengan sendirinya akan sangat menjadi daya tarik bagi pengunjung. Menurut dia kesan kumuh tak hanya dari fisik pasar tapi juga dari uang yang beredar. “Jadi akan makin banyak lagi nasabah atau konsumen untuk bertransaksi dan berada di pasar khususnya di Beringharjo, selain fisik yang semakin bersih dan uangnya pun juga semakin bersih,” tuturnya. (cr8/pra/zl)