JOGJA – Loko D1410 Bakal Beroperasi Lagi. Presiden Joko Widodo meminta kereta uap yang beroperasi pada 1898 itu mengganti peran C1218 sebagai kereta wisata. Ahli mekanik dan restorasi harus trial and error menyiasati minimnya suku cadang.

DWI AGUS, Jogja

BERAGAM lokomotif dan gerbong langsung memanjakan mata begitu memasuki Balai Yasa Jogjakarta. Bising las dan suara logam yang beradu kian menambah suasana gedung yang terletak di Demangan, Gondokusuman, Kota Jogja, itu Senin (20/5) semakin khas.

Namun, di antara berbagai lokomotif dan gerbong yang diperbaiki Balai Yasa Jogjakarta itu ada satu yang paling nyentrik. Letaknya di sebelah sisi selatan Balai Yasa.

Dari bentuknya, lokomotif yang didominasi warna hitam itu sudah terlihat sangat tua. Berbeda dengan lokomotif yang dimiliki PT Kereta Api Indonesia.

”Iya. Ini kereta uap yang sudah sangat tua,” jelas koordinator mekanik dan restorasi kereta uap Suharyanto yang mendampingi Radar Jogja mengelilingi Balai Yasa Jogjakarta.

Ya, Balai Yasa Jogjakarta sedang merestorasi lokomotif D1410. Lokomotif berjenis pegunungan ini beroperasi di Indonesia sejak 1898. Dulu, lokomotif ini beroperasi di wilayah Cianjur, Jawa Barat. Berfungsi untuk mengangkut penumpang dan berbagai kebutuhan logistik.

Menurut Suharyanto, di zamannya D1410 merupakan salah satu alat transportasi darat andalan. Mampu melaju dengan kecepatan hingga 70 kilometer per jam. Paling cepat dibanding kereta uap lainnya.

”Sekarang pun sebenarnya bisa melaju dalam kecepatan seperti itu. Tapi harus direstorasi total, karena kondisi saat ini sudah sangat tua,” katanya.

Perjalanan D1410 berakhir 80 pada 1975. D1410 pensiun. Sebagai bentuk penghargaan, D1410 kemudian dikirim ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dijadikan monumen. Itu untuk menunjukkan bahwa Indonesia pernah memiliki kereta uap super.

Setelah ”tertidur” sangat lama, sang loko uap mulai dibangunkan. Satu per satu sendinya yang berkarat mulai dibersihkan. Tenaga penggeraknya juga mulai diperbaiki. Namun, proyek restorasi itu bukan bertujuan agar D1410 dapat kembali mengangkut penumpang dan berbagai barang logistik.

”Mau dijadikan kereta wisata,” tuturnya.

Yang menarik, ide ini bukan datang dari PT KAI. Melainkan dari Presiden Joko Widodo. Mantan wali kota Solo itu bercita-cita D1410 menggantikan peran C1218 atau Jaladara.

”Nantinya, D1410 akan menarik dua gerbong kayu tua yang melintas di rel kota Solo. Sebagai angkutan wisata khas kereta uap,” kata ahli mesin uap dari Ambarawa ini.

Rencananya, D1410 akan beroperasi bersama D5299. Hanya, lokomotif calon rekan sejawat D1410 ini masih berada di Stasiun Purwosari, Solo, Jawa tengah. Menunggu giliran sentuhan ahli mekanik dan restorasi.

Bagi Suharyanto, restorasi D1410 merupakan proyek menarik. Namun, menghidupkan kembali kereta tua bukan perkara gampang. Suku cadangnya sulit didapat. Kalaupun ada, harus mengimpor. Dari itu, ahli mekanik dan restorasi harus berkali-kali memutar otak.

”Untuk mesin masih orisinal tidak diganti. Kalau suku cadang lain, buat sendiri lalu trial and error,” ujarnya.

Satu per satu besi tua itu akhirnya dipreteli. Tim memeriksa mesin penggerak atau ketel. Menurutnya, jantung utama loko uap masih beroperasi normal. Hanya perlu sedikit sentuhan tangan.

Selain restorasi, tim juga melakukan uji metalurgi. Fungsinya untuk mendeteksi usia efektif logam kereta uap. Berdasar uji material, D1410 bisa melaju dengan tekanan 10 kilogram per sentimeter. Dengan hitung-hitungan itu, D1410 bisa beroperasi 10 tahun.

”Tapi ini coba kami turunkan dengan operasional 8 kilogram per sentimeter. Kalau bertahan di angka ini bisa operasional selama 12 tahun,” jelasnya.

Suharyanto menargetkan perbaikan D1410 bisa rampung selama 270 hari kerja. Atau pada September. Saat ini, proses restorasi sang loko sepuh telah mencapai 20 persen.

Manager Humas PT KAI Daop 6 Eko Budiyanto mengungkapkan, D1410 akan beroperasi di kawasan jalan Slamet Riyadi, Solo. Oleh Pemkot Solo D1410 akan dioperasikan dari stasiun Purwosari hingga kawasan Solo Kota atau Ngrangkah.

Dalam ingatannya, proses perjalanan kereta tua ini terbilang cukup rumit. Dari TMII, D1410 diangkut menggunakan trailer. Tidak langsung ke Balai Yasa Jogjakarta, loko uap ini justru menuju Solo pada medio 2016. Setelah itu baru dibawa ke Jogjakarta untuk direstorasi.

”Tidak bisa pakai rel, karena kondisinya sudah berkarat. Kalau dipaksakan malah bahaya, bisa mengganggu kereta lainnya. Ada ritual khusus, tapi bukan klenik,” katanya. (zam/rg/fj)