PROGRAM Studi Teknik Hasil Pertanian (THP) mungkin sudah biasa terdengar di berbagai kampus di wilayah Jogjakarta. Namun berbeda dengan salah satu prodi di bawah Fakultas Industri Halal, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) yang berlokasi di Jalan Lowanu,  Sorosutan, Umbulharjo,  Kota Jogja.

Prodi ini tidak hanya membuat produk baru seperti menaikkan value editannya atau membuat inovasi, melainkan produk yang dihasilkan harus berbasis halal. “Jadi yang menjadi pembeda dari kampus lain, kami selalu menyisipkan kehalalan produk itu sendiri,” tutur Kepala Prodi THP UNU Jogja Ickhtyani Wahyuningsih.

Dia menjelaskan, setiap apa yang dibahas pada prodi selalu ditinjau dari aspek islami yaitu dengan muatan kehalalannya. Jika di kampus lain mata kuliah dalam satu semester enam bulan perkuliahan, di UNU menggunakan metode blog,

“Kalau di blog ini kami seperti dipadatkan dan ditemakan. Kami  belajar tema,  bagaimana cara kita membangun diri,” tuturnya. Misalnya, blog A membahas bagaimana cara pengembangan produk,  di sini akan menyisipkan pengembangan produk yang halal, dan di mana blog B juga pasti ada muatan kehalalannya ditinjau dari aspek islami.

Keunggulan dengan menggunakan metode blog dibanding  kuliah, akan lebih fokus dan padat pembahasan dari tema itu sendiri. Seperti di contohkan pembahasan mengenai tema building karakteristik atau bagaimana cara membangun diri sebagai lulusan THP.

Dari situ, lanjut Ichtyani, banyak muatan mata kuliah penyusunannya yang diambil seperti basic tentang pengantar teknologi pertanian, basic sistem industri pertanian, dan pengetahun bahan hasil pertanian. “Jadi tujuannya di sini untuk membangun karakteristik dan membuka wawasan mereka kalau masuk ke THP. Setelah ini mereka akan jadi apa,”  tandasnya.

Adapun dari penyusunan mata kuliah itu akan dibangun menjadi satu tema tergantung dari muatannya berapa SKS. Jika masuk tujuh SKS akan dilaksanakan selama tujuh minggu. Atau jika lima SKS akan dilaksanakan selama lima minggu. “Jadi dari selama belajar itu  mereka terus fokus terhadap satu tema itu,” terangnya.

Prodi THP yang dicanangkan empat tahun perkuliahan dengan lulusan S1 ini, di setiap tahunnya memiliki beragam tema tentang basic itu sendiri. Tahun pertama belajar tentang semua basic pertanian, tahun kedua mulai ilmu THP di mana mulai praktikum dengan pengenalan mikrobiologi,  bioteknologi, dan tahun tiga masuk ke industrinya. Bagaimana penerapan THP di industri, misalnya industri perkebunan, teh, kopi, kakao dan industri berbahan dasar lemak, serta tahun ke empat masuk wisausaha atau entrepreneur.

“Tahun ke tiga dan empat ini mulai penjurusan. Outputnya kami harapkan, walaupun mereka bekerja di suatu pabrik atau di tempat lain mereka harus tetap bisa jadi entrepreneur. Kalau mereka tidak keterima di suatu pabrik, paling tidak mereka punya basic menjadi entrepreneur dari yang kami ajarkan,” tegasnya.

Kampus UNU Jogja baru beroperasi mulai tahun ke dua, di mana sebanyak 16 mahasiswa di tahun pertama saja masih memasuki semester 4  atau baru memasuki tema THP. “Jadi mereka belum sampai pada penjurusan,” tandasnya.

Menurutnya, UNU merupakan kampus awal yang perlu melengkapi fasilitas dan membangun pendidikan, sehingga belum nampak adanya peminat yang signifikan. Harapannya pada tahun ke tiga ini sudah membuat tatanan kurikulum, mempunyai sistem dan terakreditasi. “Dengan demikian peminatnya akan lebih banyak, karena kami akan punya kekuatan untuk promosi,”  harapnya. (cr15/laz/er)