SLEMAN – Macet. Kondisi ini terus membayangi masyarakat Sleman pada musim mudik Lebaran kali ini. Terlebih di Ring Road Utara. Tepatnya di simpang empat Kentungan. Proyek underpass telah membuat kemacetan panjang sejak awal tahun ini. Kemacetan diprediksi bakal lebih parah. Volume kendaraan yang bakal masuk atau melintas di wilayah Sleman diprediksi mengalami peningkatan. Khususnya kendaraan pribadi. Baik mobil maupun sepeda motor.

Peneliti Pusat Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada Ir Arif Wismadi MSc PhD mengamini potensi meningkatnya kepadatan arus lalu lintas di jalanan DIJ pada musim Lebaran kali ini. Tersambungnya jaringan Jalan Tol Trans-Jawa menjadi salah satu penyebabnya.

Menurutnya, keberadaan Jalan Tol Trans-Jawa menimbulkan persepsi adanya kemudahan akses penggunaan kendaraan pribadi untuk mudik. “Tol akan mengalirkan arus kendaraan untuk mudik pada ruas-ruas jalan yang terhubung,” katanya Rabu (22/5).

Wilayah DIJ sebagai perlintasan atau tujuan pemudik dengan kendaraan pribadi harus diantisipasi sedini mungkin. Sebab, volume kendaraan arus mudik bakal tak seimbang dengan kapasitas jalan yang justru menurun akibat proses pembangunan.

Adapun cara mengantisipasi kemacetan, menurut Arif, dengan sistem buka tutup jalur mudik. Atau pengalihan arus kendaraan ke jalan alternatif.

Sementara itu, Kabid Transportasi, Dinas Perhubungan Sleman Marjanto mengatakan, selama arus mudik Lebaran 2019 jumlah kendaraan yang bakal melintas di wilayah Sleman diperkirakan sebanyak 3,95 juta unit. Terdiri atas 1,58 juta kendaraan roda empat dan 2,37 sepeda motor. Dibanding arus mudik 2018 ada peningkatan lima persen untuk kendaraan roda empat dan satu persen roda dua. Tahun lalu Sleman dilewati 1,5 juta mobil dan 2,34 sepeda motor pemudik. “Jadi pada 2018 total kendaraan masuk sebanyak 3,85 juta. Tahun ini 3,95 juta. Kenaikan rata-rata tiga persen,” jelasnya.

Banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan jumlah pemudik dengan kendaraan pribadi. Salah satunya kemudahan mendapatkan kendaraan. Baik beli baru, bekas, maupun sewa. Makanya jumlah unit kendaraan yang tersebar di jalanan juga meningkat. “Lalu implikasinya apa? Tentu menyumbang kemacetan,” bebernya.

Nah, guna mencegah terjadinya kemacetan Marjanto mengimbau para pemudik tidak menggunakan kendaraan pribadi. Khususnya roda dua. “Sangat berisiko kalau mudik meengendarai roda dua,” katanya.

Risiko itu terkait faktor keselamatan. Sebab, berkendara jarak yang jauh akan menguras tenaga dan konsentrasi.

Marjanto menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan program mudik gratis yang disediakan pemerintah. Selain menjamin keamanan juga meminimalisasi kemacetan. (har/yog/zl)