JOGJA – Semangat kebangsaan atau rasa nasionalisme pada NKRI sudah diawali sejak era 1908, yaitu sejak berdirinya perkumpulan Budi Utomo. Dari perjalanan panjang sejarah negeri ini menuju kemerdekaan 1945, tiga tokoh besar Indonesia, yaitu Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno merumuskan Pancasila sebagai dasar haluan negara dan pandangan hidup bangsa yang disepakati secara bersama.

Namun, akhir-akhir ini rasa nasionalisme itu mulai terusik oleh kepentingan politik sesaat sebagai konsekwensi logis dari sebuah negara demokrasi. Pilpres 2019 melahirkan luka-luka sejarah bagi kerukunan dan keberagaman berbagsa dan bernegara.

Berangkat dari rasa keprihatinan ini, warga Jogja yang tergabung dalam Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat (KNH) mengadakan peringatan hari Kebangkitan Nasional sebagai upaya merangkai kembali kecintaan pada negeri tercinta ini. Juga sekaligus mengembalikan marwah Pancasila sebagai pemersatu dan menganyam spirit pluralisme dalam kehidupan berbagsa dan bernegara.

Koordinator Acara Agus Sunandar mengatakan, semangat nasionalisme mulai terkoyak. Ada pihak tertentu yang secara sepihak tidak percaya pada hukum dan mengumandangkan people power. Tindakan ini melawan hukum ini membahayakan persatuan dan keselamatan bangsa Indonesia.

”Kalau dalam cerita pewayangan, semacam Sengkuni. Tokoh antagonis yang istimewa tapi keistimewaannya bukan dalam hal yang positif. Sengkuni adalah gambaran manusia yang penuh kelicikan, kebusukan, dan jahat. Walau sebenarnya Sengkuni adalah tokoh yang tangkas, pandai bicara dan penuh akal. Namun kepandaian itu justru dimanfaatkan untuk memfitnah dan mencelakakan orang lain,” jelasnya.

Menurutnya, tokoh-tokoh Sengkuni inilah yang banyak bermunculan di negeri ini. Acara aksi budaya ini, jelas Agus, dimaknai sebagai upaya mengusir sifat-sifat Sengkuni yang ada di negeri ini.

”Khususnya di Jogjakarta sebagai daerah istimewa yang menjunjung tinggi toleransi, pluralitas, dan kerukunan beragama. Acara ini juga dimaknai sebagai mengusir pengaruh jahat dalam masyarakat,” jelasnya. (ila)