SAYA sudah siap memasuki negara bagian yang tidak aman ini. Saya sudah melewati jembatan perbatasan kota Karachi. Mulai memasuki wilayah paling timur Baluchistan. Tidak jauh dari jembatan itu mata saya menangkap sesuatu. Ada satu papan kecil yang ditancapkan di pinggir jalan. Saya memang jarang tidur di perjalanan. Ingin terus mengamati pemandangan sekitar.

Papan itu sudah kumuh. Tulisannya sudah kurang jelas. Tapi begitu nyata di mata saya. Bunyinya: Chinese Security Desk. Polisi Distrik Lasbela. Lihat foto di atas.

Saya mendadak minta mobil minggir.

“Ada apa?” tanya sopir.

“Pokoknya berhenti dulu,” jawab saya.

Mobil berhenti di bahu jalan. Di sisi jalan yang tidak beraspal. Saya pun turun dari mobil. Lari ke belakang. Di bawah sinar matahari yang amat terik. Menyusuri pinggir jalan yang berdebu. Ke arah papan tadi. Untuk memotretnya. Tulisan di papan itu menggoda sisa-sisa kewartawanan saya.

Saya pun mencari posisi. Dari mana harus memotret papan itu. Untuk menghasilkan sudut pemotretan yang tepat. Yang ada news value-nya.

Sesuatu pun terjadi.

Seorang polisi lari ke arah saya. Menghentikan kegiatan saya memotret.

Saya bermasalah.

Tidak boleh meneruskan perjalanan. Paspor saya diminta. Diperiksa. Lalu dibawa ke pos polisi.

Saya kembali masuk mobil. Tidak tahan panasnya. Dan lagi saya harus ingat dokter: tidak boleh terlalu terkena terik matahari. Terkait dengan obat yang saya minum seumur hidup: obat setelah transplantasi hati itu.

Sopir saya mengikuti polisi. Menjaga paspor saya. Intinya: saya tidak boleh meneruskan perjalanan.

Saya datangi polisi di posnya.

“Saya bukan Chinese. Saya dari Indonesia,” kilah saya.

Pokoknya tidak boleh.

“Bunyi papan itu Chinese Security Desk. Saya Indonesia. Saya Islam,” kata saya.

Pokoknya tidak boleh.

“Saya punya visa Pakistan. Berarti saya boleh ke mana saja di wilayah Pakistan ini,” kata saya.

Pokoknya tidak boleh.

“Kalau tidak boleh, mengapa pemerintah Anda memberi saya visa,” bantah saya lagi.

Pokoknya tidak boleh.

“Kalau tidak boleh kan lebih baik jangan beri saya visa,” kata saya lagi.

Saya pun ngambek. Tidak akan mau meninggalkan perbatasan itu. Bahkan akan bermalam di dekat pos polisi itu.

Sang polisi minta bicara pada sopir. Sopir pun menjelaskan: tidak berani mengantar saya. Ini soal keamanan.

“Kenapa perusahaan Anda tadi tidak memberi tahu saya kalau orang asing dilarang ke Gwadar?“ tegur saya pada sopir.

“Sayangnya tadi bapak turun motret-motret,” jawabnya. “Ini gara-gara motret-motret itu,” tambahnya.

Saya berhenti marah. Ingat pesan dokter: tidak boleh emosi.

Saya sudah terlalu banyak emosi. Tiga tahun terakhir. Untuk urusan yang sia-sia itu. Sampai pembuluh darah saya pecah setahun lalu. Saat saya di Madinah. Untuk umrah dengan seluruh keluarga.

Ternyata saya memang kurang teliti. Di visa saya ada tertulis catatan: tidak boleh ke daerah yang terlarang. Saya tidak meneliti visa itu. Saya pikir sama dengan visa-visa pada umumnya.

Saya salah. Saya kalah.

Ternyata polisi itu benar. Sangat tidak aman. Tidak peduli Chinese atau bukan. Pokoknya bukan orang Baluch. Pokoknya bisa menarik perhatian.

Kalau pun saya tadi tidak motret-motret. Pasti di pemeriksaan berikutnya akan ketahuan. Atau di pos yang lebih jauh lagi. Untung juga sudah ketahuan saat masih dekat dengan Karachi. Misalkan baru ketahuan setelah berjalan lima jam lebih sia-sia lagi.

Ternyata memang begitu tidak aman.

Lebih-lebih sekarang ini. Saat saya menulis naskah ini. Saat saya baru saja melintasi perbatasan Kambodia-Vietnam ini. Setelah menyeberangi jembatan Sungai Mekong ini. Saya baca peristiwa itu: separatis Baluch melakukan sweeping. Mobil jurusan Karachi-Gwadar dirazia. Orang asing diturunkan. Orang asing di Pakistan hampir pasti Chinese. Mereka menemukan 14 orang. Dari beberapa mobil. Dibawa pergi. Dibunuh. Semuanya.

Sebenarnya saya tidak takut itu. Sisa-sisa kewartawanan saya masih agak tebal. Disekap pun sebenarnya menarik juga. Asal jangan dibunuh. Insya Allah saya bisa mencari cara untuk tidak dibunuh.

Kapan-kapan saya harus tetap ke Gwadar. Apalagi setelah proyek itu terwujud. Yang sedikit banyak bisa mengatasi kemiskinan wilayah Baluchistan. Bahkan bisa saja modernitasnya akan mengejar Punjab.

Saya pun jadi tahu: mengapa Amerika mundur dari proyek Gwadar. Sekian puluh tahun lalu. Demikian juga Singapura. Siapa sih yang mau dagang dalam situasi keamanan seperti itu.

Alasan keamanan seperti itu pula yang membuat Eropa mundur dari Afrika. Lalu digantikan Tiongkok. Di mana-mana.

Kini Barat marah pada Tiongkok: dianggap sudah menguasai Afrika.

Ternyata sebenarnya saya tetap bisa ke Gwadar. Kapan saja. Asal saya mau mengurus izin khusus. Lalu akan disediakan pengawalan.

Saya menyesal. Tahu itu belakangan. Setelah saya kembali ke Lahore. Dan terikat jadwal ke India, Thailand, Kambodia, dan sekarang ini ke pedalaman Vietnam. Lain kali lagi, Gwadar. (yog/rg)