JOGJA – Perjuangan Diponegoro seorang pahlawan Islam, putra sulung dari Sultan Hamengkubuwana III, raja ketiga Kesultanan Yogyakarta patut untuk diteladani. Tema tersebut menjadi pembahasan dalam kajian yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) di Masjid At-Tahkim, Notoprajan, Ngampilan, Kota Jogja, Minggu (12/5).

Menurut Ustad Fahrurozi Abu Syamil selaku pemateri kajian, kisah hidup Pangeran Diponegoro saat ini telah dipenuhi dengan cerita misteri dan mitos.  Di pembelajaran anak SD, diajarkan bahwa pangeran Diponegoro memberontak melawan Belanda karena rumahnya dipatok oleh tentara Belanda.”Hal tersebut bisa memberikan impresi bahwa pangeran Diponegoro sangat materialistik”, ucapnya.

“Bagaimana seorang pangeran yang memiliki tanah luas lalu memberontak hanya karena sebagian kecil lahannya diambil oleh Belanda”, jelasnya. Alasan tersebut mengaburkan esensi perjuangan pangeran Diponegoro yang sebenarnya.

Fahrurozi juga menyayangkan segelintir orang yang menganggap Wali Songo sebagai cerita mitos belaka. Menurutnya keberadaan sembilan ulama dan daiyah di tanah Jawa adalah sebuah fakta. Bukan mitos. “Buktinya ada dalam naskah kuno Kropak Perrara yang berisikan dialog para Wali Songo,” jelasnya.

Alasan Pangeran Diponegoro berperang bertahun-tahun melawan Belanda adalah untuk mendirikan Balad Islam di Jawa. Dalam Babad Diponegoro disebutkan waktu beliau ditanya De Kock tentang tujuan perang, jawabnya, “Nging luhuring kang agama ing tanah Jawi sadya” atau hanya untuk meninggikan agama Islam.

Kerajaan Islam Mataram Yogyakarta memiliki sistem pengadilan syariah yang dikenal dengan nama Pengadilan Serambi karena dilaksanakan di serambi Masjid Agung. Hukum yang didasarkan pada syariat agama yang ketat tersebut dilarang dan digantikan dengan hukum Belanda.

Menurutnya perjuangan membersihkan kembali agama Islam yang ternodai pengaruh barat menjadi alasan perjuangan Pangeran Diponegoro. “Ada 200 ribu atau sepertiga penduduk Mataram Islam yang mati syahid dalam perjuangan tersebut,” ucap Fahrurozi.

Pangeran Diponegoro dikenal memiliki sifat rendah hati dan tidak tamak atau serakah sekaligus berjiwa kerakyatan. Beliau berhasil menyatukan santri, bangsawan dan para kiyai untuk melawan penjajah untuk memperjuangkan keislaman. (cr16/din/fj)