GUNUNGKIDUL – Perajin batik di Desa Tancep, Ngawen konsisten menggunakan pewarna alami. Mereka juga memproduksi pewarna alami sendiri. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah.

”Penamanan pohon pewarna alami batik sekaligus untuk mengubah tanah gersang menjadi lebih hijau,” jelas Suyatmi, seorang perajin batik pameran di Rest Area Gubuk Gede, Gedangsari belum lama ini.

Perempuan yang tergabung dalam kelompok Nur Giri Indah mengungkapkan, seluruh warna yang digunakan perajin berasal dari lingkungan sekitar. Warna cokelat, misalnya, dari tumbuhan Soga. Warna hijau dari pohon Tegeran. Sedangkan warna kuning dari pohon nangka.

Hanya, kata Suyatmi, penggunaan warna alami terganggu saat musim penghujan.

”Ketika pengeringan tidak sempurna warnanya menjadi jelek,” ujarnya.

Meski warna batik dengan pewarna alami tidak mencolok, peminatnya cukup tinggi. Bahkan, memiliki pangsa pasar sendiri.

”Untuk motif batik ada cendana hingga motif khas belalang,” lanjutnya.

Bupati Gunungkidul Badingah mendukung penuh industri kerajinan batik. Keberadaannya mendukung sektor pariwisata. Dari itu, Badingah berkomitmen mendukung pengembangannya. Itu, antara lain, ditandai dengan penanaman 10.000 pohon di sentra kerajinan batik Desa Tancep.

”Selain untuk batik, pohon digunakan untuk menjaga ekosistem,” ujarnya. (gun/zam/zl)