SLEMAN – Jiwa kemanusiaannya begitu tersentuh ketika melihat gelandangan, anak jalanan, hingga mereka yang tak diakui keluarganya. Maria Immaculata Roch Endah Lestari Prajasuta pun meninggalkan biarawati agar bisa lebih dekat dengan kaum papa itu.

JAUH HARI W.S, Sleman

Sebagian rambutnya sudah tampak memutih. Wajahnya juga sudah ”dihiasi” dengan guratan-guratan garis usia. Tapi, jangan bayangkan, sosok perempuan dengan personifikasi lanjut usia (lansia) itu adalah pribadi yang lemah. Layaknya lansia pada umumnya.

Sebaliknya, perempuan yang akan menginjak usia 76 tahun pada 11 Mei adalah sosok yang tangguh. Semangatnya masih menyala-nyala. Seperti yang terlihat saat perempuan berkacamata itu menghadiri acara penyerahan bantuan oleh Pemkab Sleman di Yayasan Sahabat Manusia Butuh Cinta (Hamba) Kamis (25/4). Dia masih tampak begitu energik.

Itulah Maria Immaculata Roch Endah Lestari Prajasuta. Sosok perempuan yang mengabdikan lebih dari separo usianya untuk kaum papa. Melalui Yayasan Hamba yang dirintisnya.

”Sudah 42 tahun (berkiprah sosial). Yayasan ini berdiri pada 1976,” tutur Ibu Tari, sapaannya, di Yayasan Hamba.

Namun, yayasan yang kini terletak di Dusun Dero Wetan, Hargobinangun, Pakem, Sleman, itu dulunya berlokasi di Jakarta. Ya, Perempuan yang akrab disapa Ibu Tari atau Eyang Tari itu pada dekade 70-an tinggal di ibu kota. Di sana, Ibu Tari sudah akrab dengan gelandangan dan anak-anak jalanan. Bahkan, Ibu Tari-lah yang menjadi ibu bagi mereka yang kurang beruntung itu. Namun, Ibu Tari sempat meninggalkan ”anak-anaknya” itu pada pertengahan era 70-an. Lantaran harus menempuh pendidikan strata dua di Asian Social Institute, Filipina.

”Tesis saya mengenai anak-anak jalanan di Manila,” tutur perempuan yang lulus strata dua pada 1976 ini.

Meski menyandang gelar master dari perguruan tinggi luar negeri, Ibu Tari justru memilih menekuni aktivitas sosial begitu pulang ke Tanah Air. Dunia yang pernah digelutinya. Tujuannya, agar Ibu Tari bisa mendedikasikan hidupnya untuk kaum papa. Memanusiakan mereka yang patut dimanusiakan. Yakni, mereka yang ditolak lingkungan atau dibuang keluarganya.

Tapi, konsep aktivitas sosial Ibu Tari kali ini lebih modern. Yakni dengan mendirikan Yayasan Hamba pada 1976.

”Saat itu (Yayasan Hamba) Hanya menempati sebuah rumah kontrakan,” kenangnya.

Perjalanan misi kemanusiaan Ibu Tari di Jogja dimulai pada 1995. Setelah 12 tahun di ibu kota, Ibu Tari memboyong Yayasan Hamba ke Kota Gudeg. Juga anak-anak asuhnya.

Perempuan kelahiran Klaten, Jawa Tengah, ini menyebut jumlah anak-anak yang diasuhnya puluhan. Di antaranya ada yang diasuh sejak bayi. Mereka dari berbagai latar belakang. Mulai dari keluarga tidak mampu hingga keluarga kaya nan terhormat.

”Satu dua ada anak orang kaya dan terhormat yang entah kenapa tiba-tiba hamil,” lanjutnya.

Ketika di yayasan, Ibu Tari merawat mereka dengan penuh kasih sayang. Ibu Tari juga mendidik kepribadian mereka. Hingga mereka dewasa, kuliah, dan bekerja.

”Suka sedih kalau simbah (Ibu Tari, Red) lagi nangis kaya lagi ada masalah gitu. Mau menghibur, tapi nggak tahu gimana cara menghiburnya,” ungkap Putri Madona, salah satu anak asuh Ibu Tari.

Elishabeth Cindy Amelia juga punya kesan mendalam. Baginya, Ibu Tari adalah sosok yang tulus. Ibu Tari pula yang mengajarkannya nilai-nilai kemanusiaan.

”Kami diajarkan agar tidak membeda-bedakan satu anak dengan yang lainnya,” ungkapnya.

Konaah Anisasri Melani juga penilaian serupa.”Ibu Tari itu kalau ada yang mau bantu ya bantu saja. Dia enggak mau kalau pakai prosedur ini itu yang memperlambatnya dalam membantu orang,” tutur perempuan yang menjabat ketua Yayasan Hamba ini.

Kendati begitu, ada pengorbanan besar yang dilakukan Ibu Tari untuk kaum papa. Dia harus melepaskan kaul Biara Ordo Ursulin Bidang Pelayanan. Yang pernah dijalaninya selama 17 tahun.

”Saya keluar dari biara Ursulin karena tidak enak dengan teman-teman,” kata Ibu Tari.

Saat masih berada di Jakarta, Ibu Tari baru bisa pulang ke biara tengah malam. Kesibukannya mengurus gelandangan dan anak-anak jalanan membuatnya baru bisa kembali ke biara sekitar pukul 23.00 atau pukul 24.00. Dan, pada jam-jam itu, teman-temannya biara sedang berdoa bersama.

”Daripada mengganggu ketenteraman komunitas lebih baik saya mundur,” tuturnya.

Dia merasa tidak mampu melihat gelandangan, anak jalanan, dan ibu dengan anak di luar nikah hidup tanpa diakui keberadaannya oleh orang di sekitarnya. Perasaan itu pula yang mendorong Ibu Tari berganti haluan dari seorang biarawati menjadi pendiri yayasan sosial. (zam/by)