SLEMAN – Warga Karanggayam, Caturtunggal, Depok menolak perpanjangan kontrak tower pemancar sinyal di RT 03 Karanggayam. Kontrak tersebut berakhir 12 Februari 2019.

Tower tersebut telah berdiri sejak 2000. Sudah berpindah tangan sebanyak tiga kali. Mulai dari Satelindo, Indosat, dan kini dipegang Tower Bersama Group (TBG).

Pada 2015, warga mengadukan ke Pemerintah Kabupaten Sleman untuk mencabut izinnya. Karena tower tersebut berada di tengah-tengah permukiman warga.

Ketua RT 03 Karanggayam, Barjiyanta mengatakan, warga telah melakukan berbagai upaya meniadakan tower tersebut dari wilayahnya. Namun, pemilik lahan, yang bukan warga Karanggayam, memiliki pendapat berbeda. Dia ingin PTG tetap melanjutkan kontrak menyewa lahan.

Barjiyanta menyayangkan sikap pemilik tanah tersebut. Alih-alih datang untuk berbicara dengan warga, pemilik lahan tidak pernah melakukannya.

“Yang punya lahan juga jarang ke sini. Meskipun rumahnya di daerah Kota Jogja,” kata Barjiyanta.

Menurut dia, tower pemancar sinyal tidak seharusnya berdiri di wilayah Karanggayem. Melainkan di Karangwuni. Namun, salah seorang tokoh masyarakat Karangwuni tidak berkenan, dan menggagalkan pendirian tower tersebut.

“Keluarga pemilik lahan, salah satunya bekerja di pemilik tower tersebut. Sehingga meloloskan izin sewa lahan,” kata Barjiyanta.

Dia dan warga merasa khawatir bahaya yang mengancam. Mereka takut jika terjadi bencana sewaktu-waktu. Seperti angin puting beliung dan gempa. Paling tidak, warga yang berada di area 25 meter dari tower akan terkena dampaknya jika tower ambruk.

Pihaknya telah melakukan komunikasi dengan TGB. Meskipun belum diperpanjang, Barjiyanta khawatir tower tersebut tidak pindah. Mengingat pemilik lahan masih ingin melakukan perpanjangan.

Di dalam kontrak, jika tidak melakukan perpanjangan, pihak TBG harus memindahkan tower dengan masa tenggang selama satu tahun. Yaitu sampai tanggal 12 Januari 2020.

Hal serupa disampaikan oleh Arsiya, 55 tahun, yang rumahnya tepat di depan tower. Dia khawatir jika ada angin besar tower ambruk dan mengenai rumahnya.

Selain itu, alih-alih mendapatkan sinyal yang bagus, dia tak merasakan keuntungan dengan adanya tower tersebut. “Sinyalnya sama saja,” kata Arsiya. (cr7/iwa/by)