FILM INI cukup mencuri perhatianku. Memang tak menawarkan dobrakan narasi tentang kisah percintaan terlarang nan sensitif yang mungkin takkan berujung hingga akhir zaman, tapi secara penggarapan ia patut diperhatikan. Satu film yang layak masuk bursa FFI 2019.

Kisah jalin rasa yang diangkat dalam film ini terjadi antara suster dan romo. Mereka berdua masih terbilang dalam usia sebelum layu. Sama-sama rupawan dan tak perlu mempertanyakan lagi koridor keimanan masing-masing karena sejalur. Hanya satu cobaan mereka dalam meresmikan getar hati: dogma.

Lewat konsep pengadegan yang pelan, tenang, dan rapi, film ini mampu menampilkan konflik laten romansa yang proporsional dalam konstruksi aura spiritual lingkungan gerejawi yang sakral. Sejauh ini saya piker inilah film berset lingkup gereja yang paling meyakinkan dalam dunia perfilman Indonesia.

Keseluruhan nuansa yang terbangun ini sangat didukung olah sinematografi yang sangat simetris dan cenderung statis berikut pilihan diksi dialog yang dramatis. Selain itu, konsep ilustrasi musik yang dipilih pun terasa padu dengan visualisasinya. Hanya, ada satu keluhan dari saya terkait dengan aspek visual ini, yakni ketika rekaman bergerak,lebih dua teknik handheld,kestabilan gambar terasa kasar dan sedikit mengganggu kekhidmatan yang sudah terwujud.

Dengan melihat film ini, saya makin bersemangat melihat dinamika perfilman Indonesia. Temanya kian beragam dengan eksplorasi yang makin berani. Di samping itu, kepekaan sutradara dalam mentransformasikan nuansa deskriptif ke layar sorot kian menghipnosis. Inilah salah satu film domestik yang kelak sangat potensial dibicarakan dalam diskursus sejarah perfilman Indonesia. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara