SLEMAN – Empat siswa SLB Ma’arif Muntilan ini memang luar biasa. Keterbatasan pendengaran tak membuat mereka patah arang. Mereka membuktikannya lewat kreasi hiasan dinding nan artistik.

 SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman

Adalah Wahyu Nur Widodo, Sigit Pribadi, Sinta Putri Larasati, 18, dan Salasatul Hidayah. Empat remaja kreatif itulah yang membawa nama SLB Ma’arif Muntilan makin dikenal publik. Lewat karya mereka. Keempatnya berbagi tugas. Wahyu dan Sigit membuat hiasan dinding berbahan kayu. Sedangkan Sinta dan Salsa bertugas mempercantik karya itu.

Keterampilan kayu tergolong baru bagi mereka. Baru tiga bulan diperkenalkan di sekolah. Wahyu dan Sigit memilih program itu untuk mengasah kreativitas dan skill mereka.

Hanya dengan arahan guru pendamping, Wahyu dan Sigit mampu menyelesaikan satu hiasan dinding dalam waktu tiga jam. Mulai mengukur, memotong kayu, hingga merangkainya dengan paku dan lem.

“Bagi orang normal biasa dibutuhkan waktu minimal satu jam. Kami sebagai guru hanya memberikan gambar dan mengawasi,” ungkap Vendi Setiawan, guru kelas SMA SLB Ma’arif Muntilan, Selasa (23/4).

Selesai tugas Wahyu dan Sigit, giliran Sinta dan Salsa untuk proses finishing. Dengan sentuhan seni. Sinta dan Salsa menunjukkan bakat mereka lewat karya lukis pada media kayu yang dibuat Wahyu dan Sigit.

Mereka membuat karya itu dua kali dalam seminggu. Setiap pertemuan minimal satu produk jadi.

Sejauh ini para siswa dibantu komunitas Hobi Kayu Temanggung dan Magelang. Kehadiran anggota komunitas itu, menurut Vendi, membuat para siswa lebih aktif berkarya. Meskipun mereka belum bisa memproduksi hiasan dinding secara masal. Tapi hasil karya mereka sangat memuaskan. Karena itu sekolah berencana memasarkan produk mereka secara online. Melalui media sosial. Sekolah juga akan menggandeng pemerintah dan swasta untuk mempublikasikan karya siswa disabilitas secara masif. Agar karya mereka lebih dikenal masyarakat. Salah satunya dengan pameran. Seperti pameran kriya kayu dan perkakas pertukangan di J-Walk Mall, Babarsari, Caturtunggal, Sleman Minggu (21/4). Itu adalah pameran pertama yang mereka ikuti. Mereka pun masih malu-malu mempresentasikan karya mereka. Terlebih kepada para pengunjung yang notabene orang-orang baru yang belum mereka kenal. Karena itu Vendilah yang berperan menjadi juru bicara mereka.

Kendati demikian, karya Wahyu, Sigit, Sinta, dan Salsa yang ikut mejeng di pameran itu menjadi bukti. Bahwa siswa penyandang disabilitas mampu berkarya. Bahkan hasil karya mereka tak kalah dengan produk buatan perajin kayu secara umum. Ajang itu sekaligus menepis pemikiran publik yang menganggap anak-anak berkebutuhan khusus tidak bisa berbuat apa-apa. (yog/rg)