PURWOREJO – Ketenangan, ketelitian dan tentunya bekal belajar menjadi kunci keberhasilan ujian nasional (unas) baik yang berbasis kertas maupun komputer. Sekolah memiliki beberapa kiat agar kesuksesan dan keberhasilan mengerjakan ujian dapat diperoleh.

BUDI AGUNG, Purworejo

Tiga lokal kelas yang terlihat dari Jalan Ahmad Yani tampak ada sedikit kepadatan kemarin pagi (22/4). Anak-anak terlihat asyik berbaur dengan teman-temannya. Tidak tampak ada kepanikan di wajah mereka, padahal anak-anak itu akan melakoni perjalanan akhir belajarnya di   SMPN 2 Purworejo.

Ya, terhitung sejak kemarin hingga Kamis (24/4), secara berurutan siswa SMP akan mengerjakan mapel Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA, bergantian tiap harinya dan digelar dalam dua sesi. Jelas ada beban yang harus ditanggung, karena unas akan menjadi kunci ke mana mereka akan melabuhkan pendidikan lanjutannya.

Agak mendekat ke dalam kompleks sekolah, ternyata anak-anak itu melakukan berbagai hal untuk mendukung pelaksanaan ujian. Sebagian anak mengumpul jadi satu dengan buku di depan mereka. Pada bagian lain ada anak yang mendekat dengan guru yang mendampingi.

Secara khusus, anak-anak itu memang dikumpulkan sebelum memasuki waktu ujian datang. Sebelum masuk ke ruang laboratorium komputer yang disediakan sebanyak empat lokal, mereka bisa menikmati teh hangat dengan kue kecil yang telah disediakan.

Ini menjadi pembiasaan yang sudah berjalan di sekolah yang memiliki 195 peserta ujian itu. Ada banyak nilai baik yang diberikan sebagai bentuk motivasi sekolah bagi anak sebelum mengerjakan ujian.

Teh, dalam berbagai literasi memang memiliki beberapa kemanfaatan. Di antaranya bisa membuat fokus seseorang, lebih tenang serta meningkatkan konsentrasi. “Kami menetapkan anak agar sudah berada di sekolah satu jam sebelum waktu ujian tiba,” kata Kepala SMPN 2 Purworejo Yosiyanti Wahyuningtyas.

Penentuan waktu lebih awal ini juga dikarenakan berbagai sebab. Di antaranya akan bisa lebih leluasa mempersiapkan diri saat berada di sekolah. Selain itu berbagai hal terkait ujian yang buntu saat dipelajari malam hari, bisa dipecahkan bersama. Baik dengan rekan maupun guru pendamping.

“Kami tidak tahu persiapan anak di rumah itu bagaimana. Bagaimana pula mereka bersiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Di sini akan kami satukan lagi, menenangkan diri ataupun mungkin mereka belum sempat ngeteh atau sarapan,”  tambah mantan kepala SMPN 4 Purworejo ini.

Penyediaan teh dan makanan ringan  diharapkan akan menjadi sebuah dorongan di mana bentuk motivasi sekolah bagi anak dalam menghadapi ujian. Pendampingan guru kelas yang disebut dengan klinik mapel, juga akan sangat membantu.

“Khusus klinik mapel ini sebenarnya sudah berjalan lama sepanjang belajar mereka. Di mana anak-anak yang dinilai masih kurang, akan mendapatkan pengayaan lebih. Ini juga sudah sepengetahuan orang tua,”  katanya.

Berbagai hal diakui Yosi memang telah dilakukan. Ini menjadi semacam kewajiban karena masyarakat sangat menaruh harapan tinggi bagi prestasi belajar siswa.

Salah seorang siswa Riko Bagus mengaku senang menikmati teh hangat di sekolah sebelum ujian. Dia merasa semakin mantap untuk mengerjakan soal ujian yang diberikan. “Memang kalau pagi di rumah agak kemrungsung (terburu-buru, Red). Tapi di sekolah ternyata masih bisa ngeteh, jadinya lebih tenang,” kata Bagus. (laz/er)